Sabtu, April 21

Temu Lapang Produksi Benih Bawang Putih Mendukung Pengembangan Kawasan di Jawa Timur

Probolinggo.(11/04/2018) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur menggelar kegiatan Temu Lapang Produksi Benih Bawang Putih Mendukung Pengembangan Kawasan di Jawa Timur. Acara temu lapang dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo, Kepala BPTP Jawa Timur, Perwakilan BPSB, Penyuluh Pertanian Lapang, peneliti BPTP Jawa Timur serta 35 orang peserta temu lapang yang terdiri dari petani peserta demplot di Desa Wonokerto Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo.
Dalam sambutannya Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo, Ir. Hasyim Ashari menegaskan bahwa kerjasama antara petani di wilayah Sukapura dapat menjadi contoh dalam upaya pengembangan kawasan pertanian berbasis hortikultura. Menurutnya inovasi yang diterapkan oleh BPTP di lahan petani dapat menjadi langkah awal kebangkitan produksi bawang putih di Probolinggo yang pernah mencapai produktivas rata-rata 7 -8 ton/ha.
“ Kedepan saya ingin Probolinggo tidak hanya dikenal sebagai penghasil bawang meraih melainkan juga sebagai sentra produksi bawang putih,” pungkas Ashari.
Sementara itu Kepala BPTP Jatim, Dr. Chendy Tafakresnanto menerangkan bahwa BPTP Jatim merupakan miniatur Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) yang bertugas menyediakan inovasi teknologi berbagai komoditas untuk petani sehingga mampu meningkatkan produktivitas sektor pertanian. “ Tahun 2018 ini merupakan tahun perbenihan sehingga fokus utama Balitbangtan adalah penyediaan benih yang bisa diakses oleh masyarakat secara mudah dan gratis. Hasil dari produksi benih ini pun tentu akan disebarkan kepada petani asalkan ada usulan dari Dinas Pertanian setempat terkait calon petani dan calon lokasi (CPCL) pengembangannya” ujar Chendy.
Temu lapang juga diisi dengan penyampaian materi dari tim peneliti BPTP Jatim dan Perwakilan dari BPSB. Dalam penjelasannya penanggung jawab kegiatan produksi benih bawang putih BPTP Jatim, Ir. Baswarsiati menerangkan bahwa BPTP Jatim telah menemukan metode untuk mematahkan masa dormasi benih bawang putih sehingga berpengaruh nyata terhadap waktu tanam. “ Biasanya benih baru bisa ditanam setelah 4 – 5 bulan. Namun, dengan pendinginan pada suhu 5° Celcius selama 2 minggu benih bisa segera ditanam,” terang peneliti senior di BPTP ini.
Pengendalian hama dan penyakit tanaman dan kualitas benih yang dihasilkan di lokasi demplot juga menjadi pembahasan dalam temu lapang ini. Salah seorang anggota tim peneliti BPTP , Ir. Diding Rachmawati juga menyinggung pentingnya penggunaan agen hayati Trichoderma untuk memperbaiki kondisi mikrobiologi tanah serta pergiliran tanaman untuk mencegah terjadinya penyakit tular tanah yang dapat berpengaruh terhadap kualitas benih yang dihasilkan.
Perwakilan BPSB dalam kesempatan ini pun menyatakan kesiapannya dalam pendampingan tahapan sertifkasi yang harus dilalui sehingga diperoleh benih yang bermutu.
Demplot dilakukan pada lahan seluas 2 ha dengan hasil ubinan sebesar 21 ton/ha menggunakan varietas nasional Lumbu Kuning dan Lumbu Hijau. Mujianto, salah satu petani kooperator demplot menuturkan harapannya agar bawang putih bisa berkembang di Sukapura dengan penerapan teknologi yang lebih murah sehingga biaya produksi bisa ditekan dan produk yang dihasilkan memiliki daya saing di pasar.
Temu lapang ini diharapkan menjadi contoh nyata prospek pengembangan bawang putih yang menjanjikan dan dapat menarik minat petani sehingga dapat mengembalikan kejayaan bawang putih Indonesia seperti era tahun 1980-an terlebih Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah mencanangkan swasembada bawang putih nasional tercapai pada tahun 2021.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *