JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Aktual

Kategori

Temu Lapang Bioindustri Berbasis Tanaman Tebu Di Kabupaten Kediri

BPTP Jatim telah melaksanakan temu lapang bioindustri tebu yang berlokasi di Desa Blabak Kec. Kandat Kabupaten Kediri pada tanggal 10 Agustus. Temu lapang juga disiarkan secara langsung via internet streaming oleh Radio Pertanian Wonocolo. Undangan yang hadir Bupati Kediri yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun), Komandan Kodim 0809, General Manager PG Ngadirejo dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia, BNI Kediri serta penyuluh dan peneliti dari Balittas dan Lolitsapo bersama petani sejumlah 174 peserta.  Temu lapang yang dimotori oleh Dr. Ir. Tri Sudaryono, MS selaku penanggung jawab kegiatan bioindustri Kabupaten Kediri ini diisi oleh berbagai kegiatan antara lain:

  1. Peninjauan stand pameran bioindustri berbasis tebu yang berisi : display berbagai varietas tebu di Jatim, bibit bawang merah dari umbi dan TSS, produk limbah ternak (kompos dan biourine) dan pasca panen berupa olahan makanan yang bersumber dari tebu seperti: kecap, gula merah block, gula merah pasiran, minuman sari tebu, camilan carang mas dll
  2. Panen simbolis tebu verietas PS 862 di lokasi demplot seluas 2 ha yang dilanjutkan oleh penanaman bibit bawang merah varietas biru lancor dengan sistem alley cropping dengan tebu.
  3. Sosialisasi dan pembagian (launching) kartu tani secara simbolis kepada petani yang menjadi pilot project penggunaan kartu tani. Demonstrasi pengaktifan dan penggunaan kartu tani sebagai media pembayaran pembelian sarana produksi pertanian khususnya pupuk dengan didampingi oleh petugas BNI bersama salah satu agent penyedia saprotan. Pembagian kartu tani ini merupakan proyek percontohan (pilot project) di Kabupaten Kediri dalam mendukung program pemerintah khususnya dalam menyediakan akses penyediaan dan pembelian pupuk yang mudah dan cepat.
  4. Temu wicara bersama petani pelaksana kegiatan bioindustri tebu dengan melibatkan peneliti dari BPTP Jatim, Balittas dan Lolitsapo maupun stakeholder terkait. Temu wicara menjadi bagian akhir dari temu lapang diisi dengan diskusi ringan dengan topik terkini seputar budidaya tanaman tebu hingga wacana pemberlakuan aturan pajak bagi petani tebu rakyat. Diskusi ditutup dengan kesamaan visi untuk mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan khususnya di Kabupaten Kediri melalui pengembangan budidaya tebu dengan bawang merah yang berpotensi dilakukan di luar wilayah bioindustri tebu.

Dalam sambutan yang dibacakan oleh Kepala Distanbun, Bupati Kediri menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada BPTP Jawa Timur yang telah melakukan pendampingan dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani melalui model bioindustri berbasis tebu. Model pertanian bioindustri berbasis tebu ini diharapkan mampu mendorong pembangunan yang berawal dari desa melalui pendekatan agroekosistem, agribisnis, wilayah kelembagaan dan pemberdayaan masyarakat. Prof. Suyamto mewakili Ka BPTP Jawa Timur menandaskan bahwa pada tahun 2014 - 2015 Kementan sudah menyusun “grand design pembangunan pertanian” yang disebut Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) jangka panjang yang intinya menegaskan bahwa model pembangunan pertanian kedepan berorientasi model pertanian bioindustri yang bertujuan menghasilkan pangan dengan pendekatan zero waste melalui pemanfaatan biomassa produk pertanian maupun sisa/limbah pertanian.

Kegiatan bioindustri ini sudah dilaksanakan oleh BPTP Sejak tahun 2015 yang terletak di 3 lokasi (Kediri dengan komoditas tebu, Tuban dengan komoditas kacang tanah dan Trenggalek  dengan komoditas ubi kayu). Beliau juga menyampaikan bahwa BPTP Jatim sebagai lembaga pengkajian teknologi pertanian kedepan mendapatkan tambahan tugas sebagai lembaga penyedia bimbingan teknis bagi tenaga penyuluh. Selain itu, BPTP Jatim juga mendukung upaya penyediaan benih berbagai komoditas pertanian melalui pengelolaan Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) guna mensukseskan pencanangan Tahun 2018 sebagai tahun perbenihan yang diharapkan mendukung industri pertanian di masa yang akan datang. (Indra Bagus R, Tri Sudaryono, S. S Antarlina, Endah Retnaningtyas)

Kartu Tani, Alat Transaksi Memudahkan Petani

Kondisi geografis Kabupaten Sumenep cukup unik dibandingkan dengan kabupaten lain yang ada di Jawa Timur.  Diketahui sebagai kabupaten terluas di Pulau Madura, dibandingkan Bangkalan, Sampang dan Pamekasan. Keunikan Sumenep adalah terletak pada banyaknya pulau yang mencapai 126 pulau, diantaranya 48 pulau berpenghuni dan 78 pulau tidak berpenghuni dengan luas mencapai 946,53 Km2 atau 45,21%.  Sedangkan luas daratan Sumenep yang di pulau Madura hanya mencapai 1.146,93 Km2 atau 54,79% dari luas keseluruhan kabupaten.  Demikian gambaran tentang kondisi geografis kabupaten Sumenep yang disampaikan oleh Bupati sebagai kata sambutan pembukaan ucapan selamat datang kepada hadirin, khususnya untuk kehadiran Menteri Pertanian Dr. Andi Amran Sulaiman, MP. dan Menteri BUMN, Ibu Rini Sumarno.

Barangkali keunikan geografis itu yang membuat Menetri Pertania RI, Dr. Andi Amran Sulaiman, MP., tertarik untuk berkunjung ke Sumenep, pulau Madura pada hari selasa 6 Januari 2017 dengan menempuh darat selama 5 jam perjalanan dari Surabaya, tak menyurutkan niatnya. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur sebagai garda terdepan dalam penyiapan di setiap acara kunjungan kerja Menteri Pertanian di Jawa Timur.  Hal ini wajar karena BPTP Jatim yang dipimpin oleh Dr. Ir. Chendy Tafakresnanto, MP., merupakan UPT Badan Litbang, Kementerian Pertanian yang paling dekat dengan Satuan SKPD Provinsi maupun Kabupaten, dan tupoksinya adalah memberikan pelayanan bagi segenap masyarakat Jawa Timur.  Hal ini berbeda dengan beberapa Balai Penelitian Komoditas yang ada di Jawa Timur, walaupun statusnya sama-sama UPT Kementerian Pertanian, namun mandatnya sangat berbeda. Balit komoditas mengemban mandat hasil pengkajian secara nasional.

Peran BPTP Jatim bersama Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten telah banyak melakukan kerja nyata, mensukseskan program Upsus swasembada padi, jagung dan kedelai serta siwab guna mencapai kedaulatan pangan masyarakat, yang dibantu pula oleh TNI. Keberhasilan  program swasembada kini hanya mengandalkan adanya Luas Tambah Tanam (LTT).  Bertambahnya luas tanam, mengindikasikan akan bertambahnya produksi.  Namun LTT belum tentu memberikan pertambahan produksi, manakala petani tidak didukung oleh ketersediaan fasilitas yang memadai untuk melakukan aktivitas usahataninya.  Seperti sarana produksi ketersediaan benih, pupuk bersubsisdi dan obat-obatan yang tepat: harga, waktu, jumlah dan utamanya tepat sasaran kepada petani pengguna.  Disamping itu mendapatkan fasilitas kredit usaha rakyat (KUR), hingga pengumpulan hasil panen dan penyerapan oleh Bulog.

Merujuk pada tepat sasaran petani penerima subsidi pupuk, maka pemerintah memperbaiki sistem distribusi dengan menggunakan alat transaksi berupa Kartu Debet yang disebut dengan Kartu Tani.  Hingga akhir Mei 2017, melalui bank BNI, telah mendistribusikan sebanyak 567.990 Kartu Tani di 38 Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Timur.  Capaian tertinggi pendistribusian Kartu Tani itu diraih oleh kabupaten Sumenep, yaitu 96.908 orang petani dari 3.908 poktan, telah dicetakkan alat transaksi Kartu Tani dalam bentuk kartu debet.  Berkaitan dengan prestasi yang dicapai oleh kabupaten Sumenep, maka Launching Kartu Tani untuk Jawa Timur dilakukan di Gapura, Sumenep, yang sekaligus dihadiri oleh dua menteri yaitu Menteri Pertanian dan Menteri BUMN.  Launching Kartu Tani disambut luar biasa oleh petani dengan jumlah kehadiran mencapai sekitar 500 orang petani.  Semua direksi perbankan di Jatim turut hadir, termasuk direksi PT. Garam.  Acara launching tersebut juga dihadiri oleh semua satuan SKPD kabupaten Sumenep; para Kepala Dinas Pertanian Propinsi Jatim, semua UPT Kementerian Pertanian yang ada di Jatim. 

Keunggulan lain Sumenep, yaitu memiliki luas areal pertanaman jagung terluas se-Jatim.  Namun Produksi dan produktivitasnya masih rendah, karena rata-rata petani masih menggunakan benih jagung lokal.  Untuk  Itu, pada MH-1 di bulan Oktober tahun 2017 ini pemerintah Kab.  Sumenep melalui Dispertahortbun akan melakukan penanaman jagung hibrida seluas 50.000 ha.  Mendengarkan paparan tersebut, bapak Mentan langsung akan membantu penyediaan benih jagung hibrida hasil Litbang Pertanian untuk luasan tersebut, lengkap dengan saran pendukung yang lain.  Untuk pihak off taker akan bekerjasama dengan Bulog, PT. Charoen Pokphand Indonesia dan PT. Malindo feedmill, serta Prisma.

Tidak hanya itu yang diberikan Meneteri Pertanian kepada rakyat Sumenep, ada tambahan lagi pompa 50 unit, guna pencapaian LTT padi, jagung dan kedelai untuk tujuan tercapainya program swasembada pangan.  Selain bantuan untuk Dinas, bapak Mentan juga memberikan bantuan kepada petani secara perorangan, secara langsung kepada dua orang petani yang berkesempatan maju kedepan panggung menyampaikan permasalahannya kepada bapak Mentan.  Melalui cara ini telah didistribusikan secara langsung berupa traktor dan  mesin pompa air masing-masing satu unit kepada KWT Kasih Ibu dan Poktan.  Style atau cara-cara bapak Menteri kita yang sedemikian itu membuat dekat dengan petani serta terpatri erat dalam sanubari. (Tini-Nas)

Kunjungan Kerja Menteri Pertanian RI Ke Madura

Pemantauan Luas Tambah Tanam (LTT) padi, jagung, kedelai dan Launching Kartu Tani merupakan agenda kunjungan kerja Menteri Pertanian RI, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP., di Pulau Madura, Jawa Timur, pada Selasa, 6 Juni 2017.  LTT terus dilakukan pemantauan untuk mempertahankan produksi tersebut, untuk pencapaian swasembada demi mensejahterakan masyarakat petani.  Kartu tani adalah kemudahan fasilitas yang diberikan kepada petani untuk kemudahan akses sarana produksi pertanian yang dibutuhkan petani.

Ada dua agenda kunjungan kerja bapak Menteri Pertanian, diantaranya yang pertama adalah Launching Kartu Tani bersama dengan ibu Menteri BUMN, Rini Sumarno  di Kabupaten Sumenep dan yang ke dua memberikan Kuliah Umum pada Mahasiswa Universitas Trunojoyo, Bangkalan.  Namun dalam perjalanan selesai acara launcing kartu tani dari kabupaten Sumenep menuju Kabupaten Bangkalan, di tengah perjalanan tepatnya di kabupaten Sampang, bapak Menteri Pertanian yang suka menyelesaikan permasalahan petani seketika itu, dihadang dan rombongan diberhentikan oleh masyarakat Kabupaten Sampang, tepatnya di Posko LTT Jrengit kabupaten Sampang.  Karena mobil Alphard yang ditumpanginya berhenti, sontak Pak menteri Pertanian dan rombongannya, berhenti pula dan turun dari mobilnya.  Tak disangka di Posko LTT tersebut, sudah ada yang menunggu, diantaranya: Bupati Sampang, M. Fadhilah dan jajarannya; Kasdim; Pasiter; Kepala Dinas Pertanian, Ir. Herry; para Penyuluh Pertanian dan masyarakat tani yang ada di sekitar lahan padi yang sedang panen.  Lebih kurang sekitar 30 orang  dengan penuh harap harap cemas untuk bisa bertatap muka langsung dengan bapak Menteri Pertanian, mengenai capaian LTT yang terkendala oleh air.

Untuk kepentingan penambahan LTT, masyarakat mengadukan adanya kekurangan pasokan air, untuk tanam berikutnya yaitu di musim tanam MK II kepada Menteri Pertanian. Dengan melihat kondisi lapangan secara langsung, bapak Menteri langsung saja menginstruksi kan stafnya untuk mendistribusikan pompa air sebanyak 20 unit di desa Jrengit, untuk mengairi lahan sekitar 500 hektar sawah.  Uniknya beliau menginstruksikan:”20 unit pompa tersebut harus sudah tiba di lokasi sebelum makan sahur atau sebelum subuh”.  Kalau kurang boleh tambah Kondisi tersebut juga membuat Korwil/LO Upsus dari BPTP Jawa Timur, Ir. Ardiyansah sigap menjalankan perintah beliau dengan langsung menghubungi bagian pemasok alsintan.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur sebagai garda terdepan dalam penyiapan di setiap acara kunjungan kerja Menteri Pertanian di Jawa Timur.  Hal ini wajar karena BPTP Jatim yang dipimpin oleh Dr. Ir. Chendy Tafakresnanto, MP., merupakan UPT Badan Litbang, Kementerian Pertanian yang paling dekat dengan Satuan SKPD Provinsi maupun Kabupaten.  Hal ini karena sejalan dan sesuai dengan tupoksinya adalah memberikan pelayanan bagi segenap masyarakat Jawa Timur.  Hal ini berbeda dengan beberapa UPT seperti Balai Penelitian Komoditas yang ada di Jawa Timur, walaupun statusnya sama-sama UPT Kementerian Pertanian, namun tupoksinya berbeda, yaitu mengemban mandat secara nasional.

Selepas meenyelesaikan masalah di posko LTT Jrengit, Sampang, rombongan langsung menghantarkan Menteri Pertanian yang penuh kelakar segar tersebut ke Universitas Trunojoyo Madura (UTM) untuk memberikan kuliah umum kepada 500 orang mahasiswa. Ciri khas Dr. Ir. Andi H. Amran Sulaiman, selain menyelesaikan masalah langsung di tempat kejadian, juga memiliki ciri lainya yaitu memanggil 2 atau 3 orang untuk maju ke panggung untuk bertanya tentang apa saja di seputar dunia pertanian.  Dari mahasiswa yang maju ke panggung, ada yang mengeluhkan tentang serangan wereng di tempat tinggalnya di Gresik. Lainnya ada yang mengeluhkan harga jagung; dan juga tentang rencana penelitiannya.  Dari semua yang diutarakan mahasiswa UTM tersebut, langsung ditindaklanjuti dengan memerintahkan staf Kementerian Pertanian yang ikut hadir di situ untuk memenuhi kebutuhan pestisida untuk dikirim ke Gresik, juga memberikan dana sebesar 5 juta rupiah kepada seorang mahasiswi yang berencana melakukan penelitian.  Demikianlah suasana riuh menggembirakan semua undangan yang hadir pada Kuliah Umum, Menteri Pertanian RI. (Tini-Nas)

Magnet Gelar Lapang Inovasi di Kabupaten Sumenep

Gelar Lapang Inovasi Pertanian atau biasa disebut dengan GLIP adalah suatu metode diseminasi guna mempercepat hilirisasi inovasi teknologi hasil pengkajian, utamanya langsung ke petani pengguna maupun  pengguna perantara seperti petugas lapang, dinas maupun instansi terkait.  Percepatan hilirisasi inovasi teknologi akan dicapai hingga ke tingkat petani pengguna, manakala secara terus menerus dilakukan penderasan inovasi melalui berbagai kegiatan diseminasi yang digelar pada hamparan yang representatif dengan kisaran luasan 15 ha hingga 25 hektar. Luasnya percontohan ini adalah suatu strategi untuk menarik minat sekaligus juga untuk meyakinkan kepada petani pengguna.  Bahwasanya inovasi yang digelar tersebut tiada keraguan lagi untuk bisa langsung diadopsi, selanjutnya dapat diterapkan petani dalam skala luas. 

Luasnya percontohan ini adalah suatu strategi untuk menarik minat sekaligus juga untuk meyakinkan kepada petani pengguna.  Bahwasanya inovasi yang digelar tersebut tiada keraguan lagi untuk bisa langsung diadopsi, selanjutnya dapat diterapkan petani dalam skala luas.  Untuk tujuan tersebut, tahun 2016, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan GLIP di desa Bragung, kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, dengan karakteristik lahan sawah tadah hujan.  Hingga 2017 ini, kegiatan tersebut berlanjut, dengan basis Komoditi adalah padi.  Inovasi yang didesiminasikan adalah Peningkatn Indeks Pertanaman Padi, Penanaman sistem Jarwo 2:1 dan penggunaan varietas unggul baru padi (VUB).  Semua ini dilakukan dalam rangka untuk mensukseskan program swasembada beras, guna mencapai kedaulatan pangan masyarakat di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Alhasil kegiatan GLIP di wilayah tersebut mampu mengkondisikan dan meyakinkan petani sehingga dilaksanakan pada hamparan seluas 40 ha.  Inovasi yang diterapkan yaitu menerapkan 7 VUB padi toleran kekeringan; menggunakan sistem tanam jarwo 2:1 dan meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) Padi dari yang sekali tanam menjadi dua kali tanam.  Bahkan di tahun 2016 menjadi tiga kali tanam dengan memanfaatkan fenomena La Nina.  Demikian juaga di tahun 2017, dengan menerapkan inovasi yang masih sama dengan menanam VUB Inpari 30 dan Inpari 33 dengan sistem tanam jarwo, bertahan menanam padi dua kali pada hamparan yang lebih luas lagi menjadi 115 hektar.  Selanjutnya bagi lahan yang memungkinkan ada sumber air, petani masih ingin tetap menanam padi yang ke tiga.  Namun di tahun ini nampaknya iklim menjadi kendala, ketersediaan air kurang bersahabat dengan niat baik petani untuk tanam padi ke tiga di MK II, antara Juli-Oktober.

GLIP yang telah diselenggarakan ini bak magnet besi yang mampu menarik serpihan besi untuk berkumpul menjadi satu untuk kemudian ditempah menjadi sesuatu gada yang  sangat bermanfaat untuk kemaslahatan masyarakat tani.  Terbukti hasil-hasil tersebut di tahun 2016 saja sudah menunjukkan adanya progress yang cukup signifikan.  Lebih dari itu, yang dahulu awalnya diikuti oleh satu poktan berkembang menjadi tiga poktan, terus di tanam ke tiga menjadi empat poktan.  Demikian pula semula diikuti oleh satu desa berkembang menjadi 2 desa di kecamatan yang sama.  Di tahun 2017, dengan luasan GLIP 115 ha, pelaksana meningkat menjadi 10 poktan dengan jumlah anggota 520 orang.  Demikian pula keikutsertaan desa meningkat dari 2 desa menjadi 4 desa, yaitu: Bragung, Guluk-Guluk, Pordapor dan Penanggungan.

Progress 10 poktan pelaksana GLIP tersebut, perlu disosialisasikan dengan menyelenggarakan Hari Lapang Petani, melalui Temu Lapang dan Temu Wicara dengan unsur pemerintahan para pengambil kebijakan.  Penyelenggaraan tersebut terealisasi pada hari Senen, tanggal 22 Mei 2017, yang dihadiri sekitar 200 orang.  Diantaranya dari Unsur Dinas Pertanian, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Sumenep Ir. Bambang Heriyanto, Msi. dengan segenap para kepala bidang yang ada.  Forpimka wilayah GLIP, Gapoktan, Ka. UPTD Lenteng dan Ganding serta para penyuluh.  Tentu  tak lupa hadir para ketua poktan dan anggota petani pelaksana GLIP, pendamping dan penjab GLIP BPTP Jatim.  Istimewahnya dihadirkan pula Prof. Dr. Suyamto yang berfungsi ganda sebagai yang mewakili Ka BPTP Jatim juga sebagai pakar padi.  Penelitian beliau banyak menghasilkan journal nasional maupun internasiona di komoditi padi.  Selain itu kehadiran beliau juga dipromosikan sebagai Ketua Profesor Research, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian.

Magnet keberhasilan GLIP juga mampu menjadi magnet untuk menggaet 9 unit fasilitas berupa sarana dan prasarana (sarpras) pertanian dari Dinas Pertanian, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sumenep.  Melalui Kepala Dinas Ir. Bambang H, MSi., telah membagikan sarpras ke 10 poktan tersebut, untuk mendukung inovasi peningkatan IP padi yang ke tiga pada MK II di bulan Juli 2017.  Fasilitas yang dibagikan tersebut meliputi hand traktor (1 unit); pompa Air (4 unit); Rumah Pompa (1 unit); dan Viar R3 (1 unit).  Fasilitasi sarpras pertanian yang dibagika ke 10 poktan sebagai bentuk apresiasi keberhasilan untuk meningkatkan IP padi, juga sebagai penambah semangat untuk menghadapi tanam ke tiga di MK II, walau mungkin tidak semua lahan terealisasi, mengingat kondisi iklim. (Hanik-Indra-Tini)

"Kesuksesan adalah pertemuan antara kesiapan dan kesempatan"

Kamilah El Tiha (kerudung Kuning) Bersalaman dengan Presidan Jokowi
diantara Karya Nyata dan Satya Lencana Wirakarya

Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) ke XV, yang diselenggarakan di Banda Aceh, dengan kegiatannya yang dimulai puncaknya pada tanggal 6 Mei 2017, kini usai sudah acara tersebut pada tanggal 11 Mei 2017.  Penas adalah ajang pertemuan akbar yang diikuti KTNA seluruh Indonesia.  Konten kegiatannya berupa: pertemuan (Rembug Madya-Rembug Utama); unjuk keberhasilan, unjuk ketangkasan, ekspose temuannya yang inovatif dan masih banyak kegiatan lainnya. Penas di aceh juga dapat dikatakan sebagai ajang metode penyuluhan akbar yang digagas oleh para tokoh tani.  Oleh karena itu Moment Penas ini juga biasanya digunakan oleh Presiden RI untuk memberikan penghargaan kepada kepala daerah maupun petani yang berprestasi di bidang pertanian.

Lagi, Dr. Chendy Tafakresnanto, MP., Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur, Badan Penelitian Pengembangan Pertanian pada event tersebut, bangga, karena petani binaannya Kamilah El Tiha, telah memboyong Penghargaan dan Satya Lencana Wirakarya dari Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo.  Benar-benar membanggakan, karena beliau termasuk 8 petani terbaik terpilih mendapat penghargaan Presiden RI dari sekian banyak tokoh petani yang baik yang ada di seluruh wilayah Indonesia.  Perlu diketahui bahwa, belum lama ini beliau juga telah menerima penghargaan Pin Emas dari Menteri Pertanian RI.  Tepatnya pada Hari Pangan Sedunia yang ke XXXVI, pada tanggal 28-29 Oktober 2016 di Boyolali, dengan predikat sebagai Petani Inovator.  Penghargaan ini cukup membanggakan BPTP Jawa Timur, karena Kamila El Tiha adalah petani binaan penyuluh BPTP Jatim melalui kegiatan Gelar Lapang Inovasi (GLIP) berbasis padi. 

Kamila El Tiha pantas mendapatkan keduanya, karena beliau pelopor pembaharuan yang mudah menerima dan menerapkan inovasi di wilayahnya.   Mengutip pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman,  bahwa sudah menjadi Kebijakan di Kementerian Pertanian, manakala ada petani yang ditokohkan sebagai inovator yang dapat membawa sebuah perubahan cukup nyata di lingkungannya, maka yang bersangkutan patut mendapatkan tanda penghargaan.  Diantaranya yaitu Kemampuan mendifusikan dan menghilirisasi inovasi dalam waktu yang tidak terlalu lama.  Di tahun 2016, mampu mengadopsi dan mendifusikan inovasi dengan luasan dari semula 15 ha menjadi 40 ha.  Di tahun 2017, lewat tangan dingin Kamila El Tiha terjadi hilirisasi inovasi seluas 115 ha bekerjasama dengan 10 poktan, yang semula hanya 3 hingga 4 poktan saja di tahun 2016.

Jenis Inovasi yang diterapkan dan dikembangkannya meliputi: a).  Peningkatan IP tanam padi, dari semula sekali tanam menjadi 3 kali tanam dalam setahun.  Untuk wilayah Madura yang umumnya memiliki pola tanam padi sekali, yaitu: padi-jagung-tembakau atau padi-tembakau-jagung.   Kejadian ini adalah langkah atau jarang ditemui untuk wilayah Sumenep, apalagi dilaksanakan pada kawasan seluas 40 ha hinga sekarang mencapai  115 ha.  b). Menerapkan Sistem Tanam Jarwo 2:1 yang biasanya menanam sistem tegel tak beraturan.  Pada tanam padi MK menerapkan Jarwo Super seluas 2 ha kini mencapai 15 ha.  c). Menggunakan 7 VUB padi toleran kekeringan, seperti: Inpago 5 dan 9; Inpari 30, 19, 10, 4;  Situpatenggang dan Situbagendit, dari semula menanam Ciherang lebih dari 10 tahun. Di tahun 2017 pada musim tanam MK I, telah mengadopsi Inpari 30 dan Inpari 33, yang tetuahnya Ciherang.

"Kesuksesan adalah pertemuan antara kesiapan dan kesempatan".  Demikianlah kata bijak yang diontarkan bupati Trenggalek, Dr. Emil Dardak dalam upaya memotivasi mahasiswa pada acara EMTEK Goes To campus di Universitas Negeri Malang pada 3 Mei 2017 lalu.  Moto inilah kira-kira yang dijalankan oleh Ibu Kamilah El Tiha dalam kesehariannya tak henti berkarya di bidang pertanian.  Ada dan tiada programpun, beliau tetap semangat berkarya dan berkarya untuk mempersiapkan diri.  Manakala kesempatan itu tiba, diri telah siap pada waktu yang sama, maka akan diperoleh kesuksesan.  (Hanik-Tini)

Walikota Surabaya Inisiasi Taman Cabai di Strain Kalimas Surabaya

 Gelar acara Surabaya Pedes digagas oleh Komunitas Bicara Surabaya, yang dilakukan selama tiga hari berturut-turut, yakni dimulai hari Sabtu tanggal 15 April sampai dengan 17 April 2017 sebagai puncak acara.  Bicara Surabaya merupakan sebuah komunitas yang keanggotaannya dari berbagai profesi.  Pada perhelatan acara ini menggandeng Pemerintah Kota Surabaya, Polrestabes Surabaya dan Kejari Surabaya serta beragam komunitas lainnya. Diantaranya, Komunitas Love Suroboyo, Tunas Hijau, Karang Taruna Surabaya dan sejumlah PR Hotel di Surabaya serta kader penggerak lingkungan. 

Pada hari pertama, Sabtu tanggal 15 April 2017, acara dibuka oleh Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol. M. Iqbal.  Acara diawali dengan membagikan bibit cabai gratis kepada masyarakat di tiga titik.  Diantaranya di Taman Bungkul sebagai tempat nongkrong anak muda; di seputaran Monumen Bambu Runcing dan Perempatan Darmo.  Tempat-tempat ini sangat strategis untuk lalu-lalang warga Surabaya.  Pada hari kedua, Minggu, 16 April, Giat Surabaya Pedes dengan jadwal membagikan bibit cabai ke kampung-kanpung yang ada di seluruh kecamatan kota Surabaya.  Selain itu demi tercapainya Surabaya Pedes, pihak panitia memanfaatkan moment berkumpulnya warga kota Surabaya di arena Car Free Day (CFD) di jalan Darmo.

Kegiatan pembagian atau lebih dikenalkan dengan istilah sedekah sejuta bibit dan benih cabai yang merupakan sedekah dari para sponsorship yang peduli dengan kota Surabaya.  Dalam pendistribusiannya ini melibatkan personil kepolisian, Polwan dan Satpol PP Wanita Kota Surabaya yang cantik-cantik dengan menggunakan roller blade sejenis sepatu roda, blusukan ke kampung-kampung, agar bibit diterima dan langsung ditanam oleh warga Surabaya.  Acara sedekah dan nandur cabe itu dimaksudkan untuk menanggulangi kelangkaan cabe di Surabaya.  Kedepannya, diharapan bibit cabe yang disebar ditanam dan dipelihara di masing-masing halaman rumah warga.  Kelak, tidak ada lagi kelangkaan dan mahalnya harga cabe yang dikeluhkan masyarakat.

Surabaya Memang OK Banget !!  Walikota Surabaya, Tri Rismaharini sangat mendukung untuk menginisiasi pembuatan Taman Cabai, yang belum pernah ada selama ini.  Rencananya akan menyulap Strein Sungai Kalimas di Jalan Irian Barat, sekitar eks Kolam Renang Brantas menjadi TAMAN CABAI dan akan difungsikan sebagai pusat edukasi bercocok tanam.    Oleh karena itu puncak acara penanaman bibit cabai pada Surabaya Pedes di difokuskan di Strain Sungai Kalimas dengan ditandai dengan nandur  bareng  (tanam bersama) Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang didampingi Kapolrestabes Sruabaya dan Kajari Didik Farkhan Ausyahd.  Turut pula mendampingi ibu Walikota nandur bareng, yakni: dr. Ir. Chendy Tafakresnanto, MP., Kepala BPTP Jawa Timur;  anggota DPRD serta berbagai komunitas yang ada di Surabaya yang peduli dengan kegaitan sosial itu.  Kesuksesan dan keberhasilan Surabaya Pedes ini juga karena didukung oleh para sponsorship handal seperti: Pakuwon Grup, Honda Surabaya Center, PGN, Bank Jatim, PDAM Surya Sembada, PIOS, NAV Karaoke Keluaraga, Pelindo III serta UPT Badan Litbang Pertanian, termasuk juga Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur.

Sebagai bahan renungan pada giat gelar Surabaya Pedes, bahwasanya: “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwa besar dalam menghadapi setiap tantangan”. “Barang siapa yang bersabar atas kesulitan dan himpitan kehidupannya, maka kelak akan diberikan syafaat”. “Dan sesudahya di setiap persendian manusia wajib bersedekah di kesehariannya”.  Maknanya adalah Surabaya dipimpin oleh seorang wanita yang ulet dan bersahaja, dalam menghadapi kesulitan warganya, tingginya harga cabai, beliau dianugrahkan pemikiran yang briliant untuk mengajak bangkit warganya dengan cara terus berkarya agar terhindar dari kesulitan.  Di sisi lain bagi warga yang sukses, telah mensedekahkan sejuta bibit dan benih untuk kota Surabaya.  Agar Surabaya Survive, Surabaya mampu bertahan dalam kondisi apapun, serta Surabaya tentram dan aman.  Itulah harapan ibu Walikota yang disayangi warganya, yang disampaikan pada akhir pernyataannya di sela-sela acara tersebut. (Tini S.)

Surabaya Pedas

Pedasnya harga cabai dalam dua tahun terakhir ini telah menggetarkan seisi negeri bumi pertiwi.  Pasalnya Cabai (Capsycum Annuum), yang dalam bahasa Jawa lebih dikenal dengan sebutan lombok dengan rasa pedas.  Hampir di setiap menu masakan Indonesia, selalu menggunakan lombok atau cabai, entah sebagai pelengkap penyedap rasa masakan, atau sebagai ornamen sajian menu.  Selain itu cabai juga dikonsumsi segar sebagai lalapan (masakan Jawa), acar atau asinan serta diolah menjadi saus sambal atau bubuk cabai yang banyak digunakan pada produk olahan makanan seperti mie instan.  Dalam industri farmasi juga banyak membutuhkan komoditi tersebut yang digunakan untuk memformulasi obat-obatan herbal. Akumulasi kebutuhan inilah yang menjadi masalah, bila masyarakat hanya mengandalkan ketersediaan segar di pasar.

Menghadapi pedasnya gejolak harga cabai, Menteri Pertanian RI Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP. telah melakukan gerakan nasional tanam (Gertam) cabai bersama, yang launching kegiatan telah dilakukan pada 22 November 2016, di Cilodong Depok.  Sasarannya adalah menggerakkan semua kekuatan Kaum Hawa dan Pimpinan organisasinya.   Barang tentu kegiatan Gertam ini Kementerian Pertanian ini disambut hangat bak gayung bersambut oleh Lady First Povinsi Jawa Timur, Dra. Nina Soekarwo, selaku Ketua TP. PKK.  Mengingat program Gertam ini cukup strategis dengan menggerakan kaum ibu dan organisasi wanita di Jatim.  Gerakan tanam cabai tersebut tepatnya dilakukan di Laboratorium Diseminasi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, di kota Surabaya pada tanggal 26 Januari 2017.  Hampir semua warga kota besar di Jatim berlahan sempit, namun tidak menyurutkan semangat warga untuk mandiri dalam pemenuhan kebutuhan cabai dalam kesehariannya.

Barangkali program gertam cabai secara nasional oleh bapak Menteri Pertanian RI tersebut yang mengilhami Komunitas Bicara Surabaya  menggagas giat Surabaya Pedas, dengan nandur (menanam) sejuta bibit cabai di kota Surabaya.  Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Surabaya, Ibu Tri Rismaharini sebagai orang nomor satu di Pemkot Surabaya; Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol. M. Iqbal; dan Kajari Kota Surabaya.  Banyak sponsorship yang mendukung ketersediaan sejuta bibit cabai untuk Surabaya Pedes.  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur, melalui Dr. Chendy Tafakresnanto, MP., turut ambil bagian pada perhelatan akbar tersebut dengan nandur bareng Ibu Walikota Surabaya, sekaligus dengan mendistribusikan 5.000 bibit cabai siap tanam, untuk menghijaukan Strain Kali Brantas di Jalan Irian Barat pada hari Senen sore, 17 April 2017, sebagai acara puncak Surabaya Pedes. (Tini S.)