JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

EKSPEDISI 3. Tim SDG BPTP Jatim Kembangkan Metode Baru ‘Eksplorasi Etnikal’ (1)

Pin It

Manusia memanfaatkan alam. Alam punya caranya sendiri untuk mempertahankan dirinya. Interaksi keduanya bisa berujung pada maslahat abadi atau kemusnahan

 

'Metode Etnikal' dalam eksplorasi barangkali belum banyak dikenal, atau mungkin tidak ada, jelas ketua Tim SDG(Sumberdaya Genetik) BPTP Jatim, Dr. Sudarmadi Purnomo.

Metode itu belum dikenal atau mungkin tidak ada, Pak?  Jadi, gimana dong?

“Begini”, lanjutnya, sambil mengubah posisi duduknya, “BPTP Jatim diberi tugas oleh Badan Litbang untuk melakukan eksplorasi, guna mendata, mengumpulkan, dan mengoleksi varietas-varietas lokal tanaman, yang banyak di antaranya ditengara mulai langka bahkan mungkin sudah punah. Sasarannya sudah dibatasi, yaitu pekarangan masyarakat, dan bukan ke hutan yang jarang atau tidak pernah dijamah manusia seperti eksplorasi biasanya.”


“Dalam eksplorasi, yang diutamakan adalah ditemukannya variabilitas tanaman. Kami sih hanya melakukan improvisasi dengan mempertimbangkan batasan itu dan keterbatasan waktu, biaya dan tenaga. Karena sasarannya pekarangan, maka penentuan lokasi berdasarkan agroekologi misalnya, rasanya kok kurang tepat.”

Kok begitu, Pak?

“Karena kalau di pekarangan, sangat boleh jadi akan ditemui tanaman yang memang sesuai secara agroekologi. Kedua, berpeluang menemukan tanaman yang kurang sesuai secara egroekologi karena ketidaktahuan masyarakat, tetapi kemudian, setelah berpuluh-puluh tahun, mampu beradaptasi dengan lingkungan setempat.

Bentuk adaptasi itu biasanya berupa perubahan karakter tertentu yang bersifat menurun. Ini yang biasanya disebut kultivar. Makanya, tim SDG BPTP Jatim memilih untuk menentukan sasaran berdasarkan etnik. Setiap etnik punya kecenderungan berbeda kaitannya dengan kebutuhannya terhadap tanaman. Nah, sifat itu tentu akan berpengaruh terhadap jenis tanaman apa yang dibudidayakan di pekarangannya.

Berdasarkan pertimbangan itu,  kami sudah menetapkan lima etnik sebagai lokasi sasaran, yaitu etnik Osing (Banyuwangi), Mataraman (Tulungagung), Pesisir (Tuban), Pendalungan (Pasuruan) dan Madura (Sumenep).” (SH)