JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

EKSPEDISI 6. Tradisi dapat Selamatkan Varietas Lokal

Manusia memanfaatkan alam. Alam punya caranya sendiri untuk mempertahankan dirinya. Interaksi keduanya bisa berujung pada maslahat abadi atau kemusnahan

 

Lelah setelah seharian melakukan eksplorasi, tim SDG mampir ke rumah tokoh Suku Osing, Banyuwangi, Puradi namanya. Adalah sosok yang terbuka, kata-kata pilihannya jauh dari kesan tradisional. Pantas saja, Pak Pur ternyata juga seorang tokoh PPAH (Pos Pengembangan Agen Hayati) di wilayahnya.

Menyela pembicaraan, Pak Pur menceritakan penemuan varietas lokal secara tidak sengaja. Suatu hari dia memperbaiki atap rumahnya yang sudah berumur sekitar 15 tahun.

Ketika membongkar atap, ditemukannya seikat malai padi di atas kuda-kuda atap.  Seikat padi itu merupakan sisa dari beberapa jenis benda yang secara tradisional biasanya digantung pada kuda-kuda saat membangun rumah.

Diambilnya seikat padi itu, lalu disemainya. “Alhamdulillah”, ungkapnya, “ternyata masih ada yang bisa tumbuh, meski hanya empat butir. Saya yakin, itu varietas lokal Banyuwangi yang saat ini sudah punah”, tambahnya.

Sayang sekali tim SDG belum dapat memperoleh benihnya, sedangkan Pak Pur sendiri, belum dapat memastikan varietasnya.

Selain seikat malai padi, dalam tradisi membangun rumah terutama di Jawa dan Madura, biasanya digantung juga setandan pisang, bendera merah putih, dan ubi-ubian. Tradisi semacam itu kini telah langka, bersamaan dengan mulai langkanya varietas-varietas lokal. Karena tradisi adalah bagian dari budaya, maka korelasi antara surutnya tradisi tampaknya berbanding lurus dengan langkanya varietas lokal. Ini dapat menjadi hipotesis baru untuk meramalkan kondisi plasmanutfah.

Sekarang, kita justru ingin memulainya dari awal, dari varietas lokal, unik, atau langka. Kapankah gerangan kita mau belajar untuk tidak selalu mulai dari awal? Ataukah, sejarah memang harus selalu berulang? (SH).