JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

EKSPEDISI 7. Makanan Purba Kentang Hitam di Negeri Besi Kuning

Manusia memanfaatkan alam. Alam punya caranya sendiri untuk mempertahankan dirinya. Interaksi keduanya bisa berujung pada maslahat abadi atau kemusnahan

 

Bagi generasi yang lahir setelah 1970an, mungkin jarang atau bahkan tidak mengenal kentang hitam (Solenostemon rotundifolius). Padahal, makanan purba ini sekaligus merupakan sumber pangan fungsional. Tak ayal, meski tidak kalah lezat dibanding kentang biasa (Solanum tuberosum), tetapi kini sulit kita temui di pasar.

Kali ini tim SDG BPTP Jatim cukup beruntung, karena ternyata cukup mudah menemukan kentang hitam ini di pasar Banyuwangi. Menurut tokoh Osing setempat, Puradi, masih banyak petani yang menanam kentang hitam di lahan sawahnya.

Di pertengahan abad 13an, Banyuwangi adalah sebuah kerajaan bawahan Mojopahit bernama Blambangan. Rajanya bernama Minakjinggo dengan senjata handalannya berupa Gada Besi Kuning. Tetapi belakangan dia dicap sebagai pemberontak oleh Mojopahit.

Menurut sahibul hikayat (karena kisah Minakjinggo masih kontroversi), setelah mengalahkan Raja Probolinggo bernama Kebo Marcuet, Minakjinggo menagih janji hadiah, yaitu memperisteri Raja Mojopahit, Ratu Ayu Kencana Wungu. Apa daya, wajah Minakjinggo yang rusak akibat perang dengan Marcuet, membuat Raja Mojopahit mengingkari janjinya. Keputusan itu membuat Minakjinggo berbalik menjadi pemberontak.

Sang Raja pun membuka sayembara baru untuk menumpas si empunya Gada Besi Kuning yang sakti mandraguna itu. Sang penantang, Damar Wulan, ternyata tidak mampu menandingi kesaktian Minakjinggo. Untuk itu Damar Wulan meminta bantuan dari kedua selir Minakjinggo, bernama Dewi Waita dan Dewi Puyengan. Mereka ditugasi untuk mencuri senjata handalan Minakjinggo. Singkat cerita Minakjinggo tewas oleh senjatanya sendiri di tangan Damar Wulan alias Maulana Ishak.

Kita kembali ke kentang hitam. Sebagai pangan fungsional, kentang hitam dipercaya dapat menyembuhkan diabetes jika dikonsumsi secara teratur. Kentang hitam mengandung energi sebesar 142 k.kalori, protein 0,9 g, karbohidrat 37,7 g, lemak 0,4 g, kalsium 34 mg, fosfor 75 mg, zat besi 0 mg, vitamin A 0 IU, vitamin B1 0,02 mg dan vitamin C 38 mg, sedangkan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 75%.

Tanaman yang adaptasinya cukup luas ini, perbanyakannya sangat mudah, bisa dengan umbinya maupun dengan stek batang. Umur panen sekitar 6-7 bulan, atau saat daunnya mulai menguning.

Dalam eksplorasi, Tim SDG menemukan dua jenis kentang hitam di Banyuwangi. Jenis pertama berdaun hijau, yang kedua berwana keunguan, terutama di bagian bawah daunnya. Namun, menurut Puradi, kemungkinan karena perbedaan kesuburan lahan saja. Beberapa contoh umbi sudah dibawa oleh tim SDG untuk ditanam dan dievaluasi lebih lanjut di BPTP Jatim.