JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

EKSPEDISI 8. Orang Pintar Suka Makan ‘Ranti’

Manusia memanfaatkan alam. Alam punya caranya sendiri untuk mempertahankan dirinya. Interaksi keduanya bisa berujung pada maslahat abadi atau kemusnahan

 

Entah kebetulan atau tidak, tanaman ranti masih ditemukan di dua wilayah pesisir, yaitu di Blambangan (nama asal Banyuwangi) dan Songenep (nama asal Sumenep).  Ranti tidak lain adalah tomat (Solanum lycopersicum) varietas lokal. Belum diketahui, dari mana istilah itu berasal, dan bagaimana bisa mempunyai sinonim “tomat” untuk wilayah lain.

Khusus di Madura, secara tadisonal memang hanya mengenal sebutan “ranti” untuk tomat.  Di pulau garam itu (sekarang tidak lagi, karena kita sudah impor garam) sempat beredar larangan anak-anak makan ranti, karena konon akan membuat mereka menjadi bodoh.

Namun, penelusuran lebih lanjut oleh tim SDG, ternyata larangan itu dikembangkan oleh penjajah Belanda. Tujuannya, agar orang Madura tidak mengkonsumsi buah yang justru penuh gizi itu.

Tanaman ini sudah sangat langka, sehingga jarang ditemukan di pasar. Penduduk yang membudidayakannya pun, biasanya membiarkannya begitu saja tidak dipangkas. Kadang mereka memberikan penguat tanaman dengan lanjaran, dengan tinggi tanaman tidak lebih dari 3 m. Ranti mempunyai sifat genjah dan termasuk tomat determinate.

Menurut keterangan masyarakat setempat, baik di Banyuwangi maupun di Sumenep, tak ada yang bisa mengalahkan ranti sebagai bahan baku pembuatan sambal. Hal itu karena rasa asamnya yang lebih kuat daripada tomat biasa.

Orang pintar pasti suka makan ranti. Yang lebih pintar lagi adalah yang mau melestarikan, membudidayakan dan mengembangkannya. (SH).