JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Jangan Lupa

EKSPEDISI 8. Orang Pintar Suka Makan ‘Ranti’

Manusia memanfaatkan alam. Alam punya caranya sendiri untuk mempertahankan dirinya. Interaksi keduanya bisa berujung pada maslahat abadi atau kemusnahan

 

Entah kebetulan atau tidak, tanaman ranti masih ditemukan di dua wilayah pesisir, yaitu di Blambangan (nama asal Banyuwangi) dan Songenep (nama asal Sumenep).  Ranti tidak lain adalah tomat (Solanum lycopersicum) varietas lokal. Belum diketahui, dari mana istilah itu berasal, dan bagaimana bisa mempunyai sinonim “tomat” untuk wilayah lain.

Khusus di Madura, secara tadisonal memang hanya mengenal sebutan “ranti” untuk tomat.  Di pulau garam itu (sekarang tidak lagi, karena kita sudah impor garam) sempat beredar larangan anak-anak makan ranti, karena konon akan membuat mereka menjadi bodoh.

EKSPEDISI 9: Koalisi dengan Koro Pedang Substitusi Kebutuhan Kedelai

Manusia memanfaatkan alam. Alam punya caranya sendiri untuk mempertahankan dirinya. Interaksi keduanya bisa berujung pada maslahat abadi atau kemusnahan

 

Beberapa kali kita disibukkan oleh keterbatasan pasok kedelai untuk memenuhi kebutuhan pengrajin tempe. Meski potensi produksi kedelai dalam negeri cukup tinggi, namun persoalannya justru terletak pada harga kedelai yang seringkali kurangmenarik bagi petani.

Banyak pilihan sebenarnya untuk memecahkan persoalan di atas, mulai dari kebijakan sampai dengan mencari komoditas pengganti atau substitusi. Tim Sumberdaya Genetik (SDG) BPTP Jatim telah mengidentifikasi koro Pedang tipe tegak sebagai pilihannya. Menurut Ketua Tim SDG, Dr. Sudarmadi Purnomo, potensi produksi Koro Pedang Tegak 2,9-6 ton/ha, jauh lebih tinggi daripada kedelai yang secara nasional hanya 1,6 ton/ha.

Keunggulan lainnya, ketersedian produk polongnya bisa berkesinambungan karena termasuk tanaman tahunan yang bisa dipanen beberapa kali. Habitus tanaman yang tegak juga tidak memerlukan lahan yang luas dan para-para seperti halnya koro pedang lainnya, cukup dengan lanjaran saja. Koro Pedang Tegak juga mampu beradaptasi di lahan marjinal.

Proses pembuatan dan keragaan tempe Koro Pedang Tegak tidak jauh berbeda dengan tempe kedelai. Warna cenderung lebih putih dengan harga jual lebih tinggi.

Masih menurut Purnomo, komoditas hasil eksplorasi di Probolinggo ini memiliki zat penghambat  aktifitas  ACE  (Angiotensin  Converting  Enzyme). ACE adalah enzim yang  bertanggung  jawab  terhadap  meningkatnya  tekanan  darah.  Aktifitas penghambatannya jauh lebih baik dibanding peptida serupa dari tempe kedelai.

Lahan pertanian semakin sempit menambah prospek Koro Pedang Tegak untuk diusahakan di kebun pekarangan. Koro ini juga penambat nitrogen yang lebih baik daripada kedelai, dengan produk biomassa pupuk hijau lima kali lipat daripada kedelai. Awal panennya pada umur 3-4 bulan.

Saat ini Tim SDG BPTP Jatim tengah intensif melakukan pengkajian berbagai sayuran lokal Jatim hasil eksplorasi dan memproduksi benihnya, termasuk Koro Pedang Tegak. Masyarakat yang berminat mengembangkan dapat memperoleh benihnya secara gratis. (SH).

EKSPEDISI 1. 'Dream Team' SDG BPTP Jatim

EKSPEDISI 2. Pembibitan Cabe Ramah Lingkungan, Efisien Tempat, Biaya dan Cepat

EKSPEDISI 3. Tim SDG BPTP Jatim Kembangkan Metode Baru ‘Eksplorasi Etnikal’ (1)

EKSPEDISI 4. Tim SDG BPTP Jatim Kembangkan Metode Baru ‘Eksplorasi Etnikal’ (2)

EKSPEDISI 5. Ronggo Lawe pun Tewas di Sungai Tambak Beras

EKSPEDISI 6. Tradisi dapat Selamatkan Varietas Lokal

EKSPEDISI 7. Makanan Purba Kentang Hitam di Negeri Besi Kuning

EKSPEDISI 8. Orang Pintar Suka Makan ‘Ranti

 

JANGAN LUPA 4. Pupuk Kimia, Dulu dan Sekarang

Manusia memanfaatkan alam. Alam punya caranya sendiri untuk mempertahankan dirinya. Interaksi keduanya bisa berujung pada maslahat abadi atau kemusnahan

 

Belakangan kita sering mendengar kabar kelangkaan pupuk di beberapa wilayah. Keadaan seperti itu tak terbayangkan bisa terjadi di era 70-an, sebab petani belum terbiasa dengan “garam berkhasiat” atau pupuk. Untuk keperluan tanamannya, petani masih menggunakan pupuk kandang , bahkan tidak dipupuk sama sekali.

Pupuk kimia yang kita kenal sekarang mulai diperkenalkan pada awal tahun 70-an, terutama untuk tanaman padi. Setelah mengenyam mujarabnya pupuk kimia dalam meningkatkan produksi, kini kita sampai pada era petani yang “fanatik” menggunakan pupuk kimia.

JANGAN LUPA 3. Empat Sehat Lima Sempurna

Manusia memanfaatkan alam. Alam punya caranya sendiri untuk mempertahankan dirinya. Interaksi keduanya bisa berujung pada maslahat abadi atau kemusnahan

 

Barangkali, mulai anak Taman Kanak-kanak sampai mereka yang sudah berumur cukup akrab dengan jargon, “Empat Sehat Lima Sempurna” ini. Bukan hanya itu, jargon ini bisa dibilang monumental, karena mampu menjelaskan sesuatu yang sangat penting, mudah diingat dan menyeluruh sekaligus.

Namun demikian, jarang sekali orang tahu siapa konseptornya. Beliau adalah Prof. Poorwo Soedarmo, seorang tokoh ahli gizi, kelahiran Malang, 1904.

EKSPEDISI 7. Makanan Purba Kentang Hitam di Negeri Besi Kuning

Manusia memanfaatkan alam. Alam punya caranya sendiri untuk mempertahankan dirinya. Interaksi keduanya bisa berujung pada maslahat abadi atau kemusnahan

 

Bagi generasi yang lahir setelah 1970an, mungkin jarang atau bahkan tidak mengenal kentang hitam (Solenostemon rotundifolius). Padahal, makanan purba ini sekaligus merupakan sumber pangan fungsional. Tak ayal, meski tidak kalah lezat dibanding kentang biasa (Solanum tuberosum), tetapi kini sulit kita temui di pasar.

Kali ini tim SDG BPTP Jatim cukup beruntung, karena ternyata cukup mudah menemukan kentang hitam ini di pasar Banyuwangi. Menurut tokoh Osing setempat, Puradi, masih banyak petani yang menanam kentang hitam di lahan sawahnya.

JANGAN LUPA 2. Mujahir, ternyata Ikan Air Laut dari Afrika

Manusia memanfaatkan alam. Alam punya caranya sendiri untuk mempertahankan dirinya. Interaksi keduanya bisa berujung pada maslahat abadi atau kemusnahan

 

Tidak banyak orang tahu, bahwa ikan Mujahir (Oreochromis mossambicus)  yang lezat itu ternyata bukan ikan air tawar dan bukan asli Indonesia, melainkan dari benua Afrika pula. Bagaimana ceritanya, sampai kini masih misteri.

Sebuah versi menyebutkan, bahwa ikan Mujahir diberi nama dari penemunya, yaitu Pak Mujahir, seorang Bapak dari Blitar. Asal muasalnya dimulai dari kebiasaan beliau melakukan tirakat, mandi di muara Sungai Serang, Blitar, setiap satu Syuro. Suatu saat dilihatnya sekelompok ikan yang menarik perhatian dan menurutnya tampak nyleneh (Jawa: berbeda dari yang lainnya).

EKSPEDISI 6. Tradisi dapat Selamatkan Varietas Lokal

Manusia memanfaatkan alam. Alam punya caranya sendiri untuk mempertahankan dirinya. Interaksi keduanya bisa berujung pada maslahat abadi atau kemusnahan

 

Lelah setelah seharian melakukan eksplorasi, tim SDG mampir ke rumah tokoh Suku Osing, Banyuwangi, Puradi namanya. Adalah sosok yang terbuka, kata-kata pilihannya jauh dari kesan tradisional. Pantas saja, Pak Pur ternyata juga seorang tokoh PPAH (Pos Pengembangan Agen Hayati) di wilayahnya.

Menyela pembicaraan, Pak Pur menceritakan penemuan varietas lokal secara tidak sengaja. Suatu hari dia memperbaiki atap rumahnya yang sudah berumur sekitar 15 tahun.