JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Kearifan Lokal (Good Practices) pada Komunitas Kaligayam untuk Tanaman Mangga

Pin It

Kearifan Lokal pada Konservasi dan Pemanfaatan Tanaman Mangga dan Jeruk di Komunitas Kaligayam (Kediri)
Good Practices of Conservation and Sustainable Uses of Mango and Citrus in Community of Kaligayam (Kediri) and Bibis (Magetan), East Java

PPMU OF BIOVERSITY PROJECT EAST JAVA 2011
Kearifan Lokal (Good Practices) pada Komunitas Kaligayam untuk Tanaman Mangga

Kuntoro Boga Andri, Sudarmadi Purnomo, Putu Bagus Daroini, Hanik Aggraeni Dewi
BPTP JAWA TIMUR

Komunitas Kaligayam, Desa Tiron, Kediri, sebagian besar adalah petani yang membudidayakan mangga di pekarangan dan kebun dengan cara sederhana dan praktek turun temurun sejak puluhan tahun yang lalu.  Seiring berkembangnya waktu, budidaya mangga setempat mengalami perkembangan, hal ini tidak lepas dari peran penyuluh dan bimbingan yang diberikan baik oleh instansi atau dinas terkait maupun oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Namun demikian ada kegiatan atau kebiasaan petani yang sampai sekarang masih dilakukan dan merupakan kearifan lokal yang bermanfaat bagi perekonomian, kehidupan sosial, dan lingkungan.


 
Budidaya Tanaman Mangga
Untuk perbanyakan tanaman, dahulu petani di Kaligayam hanya tinggal mencari  bibit tanaman mangga yang tumbuh dari biji mangga (tukulan) yang terdapat di hutan, kebun atau pekarangan. Sekarang ini petani sudah mengenal  teknik mencangkok dan stek untuk memperbanyak tanaman mangga. Petani  menggunakan pupuk kandang yang berasal dari kotoran ternak kambing dan sapi sebagai pupuk organik untuk tanaman mangga, karena hal ini diyakini oleh petani dapat menyuburkan tanah dan meningkatkan produksi buah mangga. Selain itu juga ada beberapa petani yang memelihara lebah, ini bermanfaat membantu proses penyerbukan tanaman mangga. Disamping itu lebah juga akan memperoleh nectar dari bunga mangga yang menghasilkan madu dan pakan lebah memanfaatkan limbah prossesing buah mangga yang mengandung gula dari sari mangga.
 
Untuk mengatasi kutu (cikade) ketika pohon mangga berbunga atau untuk mengatasi serangan lalat buah,  petani melakukan pengasapan yaitu dengan cara membakar baik sampah, daun-daun dan ilalang atau rumput
 
tepat di bawah pohon mangga yang sedang berbunga atau berbuah tersebut.  Asap dari pembakaran itulah yang diyakini dapat mengusir kutu bunga atau lalat buah. Batang pokok buah mangga dipaku atau dilukai dengan cara dicacah, ini bertujuan untuk merangsang pembungaan, sehingga diharapkan pohon mangga dapat berbuah lebat.  Ada juga sebagian petani yang percaya bahwa dengan mengikat batang pokok buah mangga dengan alang-alang maka bunga mangga  tidak akan mudah rontok atau gugur.
 
Sebagian wilayah Kaligayam adalah hutan Perhutani, dalam memanfaatkan lahan hutan, diadakan sistem pengelolaan “Sanggem” yaitu kerjasama antara Perhutani dengan LMDH “Tiron Lestari” dimana petani diperbolehkan menggarap lahan perhutani dengan kewajiban merawat dan memelihara tanaman mangga  di lahan tersebut. Petani penggarap memperoleh bagi hasil tanaman mangga sebanyak 50%, pihak Perhutani  memperoleh 25% dan kelompok tani 25%.  Petani menanami lahan perhutani dengan jagung, kacang tanah dan ketela pohon yang seluruh hasilnya diambil oleh petani penggarap.
 
Petani juga menanam pohon mangga di lereng/tebing, baik di lahan petani sendiri maupun di lahan perhutani. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya erosi dan tanah longsor. Petani mangga di Desa Tiron juga telah menerapkan sistem tanam “kebun multi strata”, dimana pada tingkat strata I petani menanam jahe, kunir, singkong, gadung, talas dan suwek. Pada strata II terdapat tanaman pisang, pepaya dan strata III adalah tanaman utama yaitu mangga.
 
Untuk pemasaran buah mangga, sebagian besar petani menggunakan sistem tebas. Keuntungan sistem tebas ini adalah petani tidak lagi mengeluarkan biaya untuk panen karena kalau dihitung-hitung biaya untuk panen cukup besar terutama pada tanaman mangga yang terdapat di kebun-kebun di lereng bukit.
 
Petani mangga yang tergabung dalam kelompok tani “Sumber Mulyo” mengadakan kerjasama dengan REI (Resource Exchange
<br />
Sistem kerjasama yang dilakukan adalah sistem kontrak yang berdurasi lima tahun. Dalam kerjasama ini, kelompok tani memperoleh bantuan peralatan pengolahan seperti mesin open. Semua peralatan pengolahan dapat menjadi hak milik kelompok tani jika kontrak kerjasama sudah selesai. Hasil olahan yang berupa kripik mangga semuanya dibeli oleh REI dengan harga yang telah disepakati bersama. Sedangkan pihak REI berhak membeli semua hasil olahan dan dipasarkan ke luar negeri, terutama ke Amerika dan Malaysia.
 
Pemanfaatan Pohon dan Buah Mangga
Ranting dan dahan pohon mangga yang kering dimanfaatkan oleh petani sebagai kayu bakar, hal ini sangat membantu perekonomian petani mengingat harga bahan bakar minyak sekarang ini sangat mahal. Selain itu jika petani menebang pohon mangga maka batang pokok tanaman mangga dimanfaatkan sebagai papan untuk bahan bangunan.
 
Untuk memanfaatkan biji buah mangga yang biasanya dibuang, petani mengolah biji buah mangga menjadi jenang pelok. Cara pembuatan jenang pelok adalah pelok (biji mangga) dikupas dan dibuang kulit kerasnya. Selanjutnya pelok dijemur, jika sudah kering pelok diselep atau ditumbuk sampai halus. Tepung pelok diberi air dan diperas untuk diambil patinya. Pati tersebut kemudian dipanaskan hingga mendidih dan diberi gula serta aroma secukupnya.
 
Selain itu petani juga dapat membuat botok, sambal goreng dan sayur yang berasal dari buah mangga muda yang jatuh atau rontok. Cara pengolahannya adalah buah mangga yang masih muda dikupas kemudian dipotong kecil-kecil dan dijemur sampai kering. Selanjutnya irisan buah mangga yang sudah kering tadi direndam selama satu malam dan dijemur lagi. Setelah kering, irisan buah mangga tadi siap dimasak sesuai selera, apakah buat botok mangga, sambal goreng mangga atau sayur santan dari buah mangga tadi.
 
dicangkok dikuliti dan kambiumnya diolesi dengan bawang putih atau bawang merah, ini bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan akar ketika dicangkok. Ketika mencangkok, petani menggunakan pembungkus dari sabut kelapa dengan media cangkok  yang terdiri dari tanah, pupuk kandang dan pasir. Jika musim kemarau,  di atas cangkokan tersebut diberi botol gelas yang dilubangi kecil dan diisi dengan air dengan tujuan supaya  cangkokan tersebut tetap mendapat suplai air. Batang cangkokan yang telah tumbuh akar dipindahkan ke dalam polibag terlebih dahulu sebelum ditanam dilahan atau kebun, ini bertujuan untuk memperkuat dan memperbanyak perakaran sehingga ketika ditanam di lahan pohon tidak mudah mati.