JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Profil Instansi

Institusi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian adalah unit pelaksana teknis (UPT) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) di daerah yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian (SK Mentan) nomor 798/Kpts/OT.210/12/94 tanggal 13 Desember 1994.

 

Pimpinan Kami

BPTP merupakan fungsi unit kerja Eselon IIIa yang secara struktural adalah salah satu unit kerja di lingkup Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP). Dalam pelaksanaan kegiatan, secara struktural Kepala Balai dibantu oleh Pejabat Esolon IV.

 

Fasilitas

Untuk mendukung kegiatan pengkajian dan diseminasi hasil-hasilnya, BPTP Jatim dilengkapi dengan sarana dan prasarana, mulai dari yang mendasar (laboratorium), Kebun Percobaan, lahan, berbagai bangunan, perpustakaan, Klinik Agribisnia dan Unit Produksi Benih Sumber (UPBS). BPTP Jatim memiliki 3 instalasi, berupa 2 kebun percobaan (KP Karangploso di Malang dan KP Mojosari di Mojokerto) dan 1 Laboratorium Diseminasi Wonocolo di Surabaya.

 

Jasa dan Layanan

Melalui berbagai layanan yang disediakan BPTP Jatim. Untuk menjangkau cakupan sasaran yang lebih luas itu, maka BPTP Jatim :

  • Membangun visitor plot, yaitu gelar rakitan teknologi sebagai sarana belajar bagi petani dan masyarakat luas
  • Melayani kunjungan dalam berbagai bentuk dan tujuannya (studi banding atau konsultasi)
  • Mengadakan pelatihan Secara periodik, menyelenggarakan open house, ekspose atau pameran
  • Menyediakan publikasi rakitan teknologi secara gratis
  • Mempublikasi hasil-hasil pengkajian, baik dalam media cetak (koran dan tabloid), maupun elektronik (radio dan televisi).

Sejarah

Sejarah Pada awal pembentukannya, BPTP Jawa Timur merupakan gabungan (merger) dari berbagai unit kerja di jajaran Badan Litbang Pertanian yang ada di Jawa Timur (16 unit kerja), yaitu eks Sub Balithorti Malang, Sub Balithorti Tlekung, Sub Balittan Mojosari, Sub Balitnak Grati, beserta kebun percobaan yang berada dibawahnya, dan Balai Informasi Pertanian Wonocolo, Surabaya, yang dibentuk berdasarkan SK Mentan No. 798/Kpts/OT.210/ 12/1994.

Uji Multilokasi Galur-Galur Harapan Calon Varietas Unggul Padi

Untuk Download Click Disini.

ABSTRAK

Luas tanaman padi di Jawa Timur sekitar 1,7 juta ha dengan keragaman lahan yang cukup bervariasi, antara lain lahan kering, lahan asem-aseman, lahan tambak dan lahan-lahan endemik hama atau penyakit utama. Luas lahan semakin berkurang karena beralih fungsi, sedang jumlah penduduk terus bertambah. Salah satu cara untuk meningkatkan hasil adalah penggunaan varietas unggul baru baik unggul Nasional maupun spesifik lokasi.Penggunaan varietas unggul spesifik lokasi menguntungkan karena dapat mengurangi resiko kegagalan tanpa melakukan tambahan biaya dan aktivitas. Uji multi lokasi merupakan kegiatan lanjut dari metode seleksi yang berasal dari persilangan sebelum dilakukan usulan pelepasan. Sedangkan Uji adaptasi bertujuan untuk menginformasikan dan menyebar luaskan varietas-varietas unggul baru yang telah dilepas kepada petani agar dapat memilih sendiri varietas yang sesuai dengan seleranya. Uji multi lokasi dilaksanakan di delapan Kabupaten yaitu : Malang, Nganjuk, Bojonegoro, Banyuwangi, Jombang, Madiun, Magetan dan Lumajang. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan. Galur- galur yang diuji pada UML sebanyak tujuh galur dari hasil UDHP 2001 dan lima galur dari UML 2002 sebagai pembanding adalah IR 64, Membramo dan Cibogo. Hasil percobaan menunjukkan bahwa galur BP 50f, 05 B adaptif dilingkungan spesifik lahan asem-aseman Lumajang dengan hasil 7,11 ton/ha kadar air 18 % dengan pembanding membramo 5,87 t/ha  kadar air 18 %. Hasil ratarata di delapan lokasi masing-masing berurutan dicapai galur S3382-13 A (7,81 t/ha), S4814-2A (7,66 ton/ha), S3459-7A (7,53 ton/ha) dan BP1072-24C (7,50 ton/ha) lebih tinggi dari pembanding Cibogo (7,00 ton/ha), Membramo (6,54 ton/ha) dan IR 64 (6,18 ton/ha). Galur-galur S3382-13 A, S4814-2A, S3459-7A, BP1072-24C dan BP154-18B perlu diuji lebih lanjut pada musim yang berbeda dan berpeluang untuk dilepas. 

Kata kunci : Uji multi lokasi, Padi

ABSTRACT

Rice areal in East Java is about 1.7 billion hectar, by various land types, like dry land, bad drainage land, deep water land and pest cudemic lokations. Irrigation land continued to decrease for another functions but increasing pupulation is still hight enough. For these problem inten sification sistem must be conducted. One component of intensification sistem is using the specific varieties which have hight yielding. By the using specific varieties can has the failure risk. Multilocation yield test in the advenced stage of selection to get the new varieties. In 2002 the multilocation yield test was conducted in 8 location (Banyuwangi, Lumajang, Malang, Nganjuk, Jombang Bojonegoro, Madiun and Magetan).Thirteen lines and 3 varieties (IR 64, Memberamo, and Cibogo) as chech were tested, by randomized block, design, 3 replications result of the yield test are show that BP 50 f – 05 B adapted to bad drainage land in Lumajang which yielding 7.11 t/ha; while Memberamo is 5.87 t/ha. Average yield for 4 lines in 8 location are 7.81 t/ha (S.3382-13 A), 7.66t/ha(S4814-2A); 7.53 t/ha (S 3459-7A) and 7.50 t/ha (BP 1072-242) higher yielding than Cibogo (7.50 t/ha), Memberamo (6.54 t/ha) and IR 64 (6.18t/ha). These lines must be continued to yielding test again and oportunity to released.

Key word : Multilocation yield test, Rice

Penulis : Pikukuh., S. Roesmarkam dan Abu

Tahun : 2003

Keragaan Usahatani Beberapa Pola Tanam Di Daerah Pengembangan Kapas Kabupaten Lamongan Jawa Timur

Untuk Download Click Disini.

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan selama 6 tahun dimulai tahun 1997 s/d 2002 di beberapa Kabupaten Sulawesi Selatan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat efisiensi usahatanai penggunaan pestisida kimiawi dibandingkan dengan pemakaian seresah (sisa tanaman/batang jagung) dalam rangka mengendalikan hama kapas dan peningkatan musuh alaminya. Pada tahun pertama penelitian dilaksanakan di wilayah Kecamatan Sibulue, Kabupaten Bone pada lahan sawah sesudah padi. Pada tahun kedua dan ketiga penelitian dilaksanakan di Desa Tolo Timur, Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto pada lahan kering. Pada tahun keempat penelitian dilaksanakan di Desa Pongka, Kecamatan Telu Sutinge, Kabupaten Bone dan pada tahun keenam penelitian dilaksanakan di Desa Barakal, Kecamatan Lamiru, Kabupaten Bone pada lahan kering. Penelitian selama enam tahun tersebut diatas melibatkan puluhan petani yaitu berkisar 44-69 petani binaan dan luas areal antara 10-51 hektar. Adapun komponen teknologi yang diterapkan yaitu : 1 . Penggunaan benih kapas gundul 2. Penggunaan varietas yang resisten terhadap ampoasca Biguttula 3. Tanam tepat waktu 4. Penanaman jagung sebagai perangkap Helicoverpa armigera Hubner 5. Penggunaan seresah batang jagung sebagai penarik predator 6. Konservasi gulma untuk penarik parasitoid 7. Pengendalian hama berdasarkan hasil panduan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan serasah dan komponen teknologi lainnya dapat menghemat penggunaan pestisida sebanyak 2,56 liter = Rp 207.500,- per hektar. Pada lahan petani yang menerapkan komponen teknologi tersebut produktivitas kapas dan palawija sebesar 1.353 kg/ha dan 553 kg per ha, sedangkan petani yang tidak menerapkan produktivitasnya sebesar 624 kg/ha dan 304 kg/ha.

Penulis : Bambang Sulistiono dan Teger Basuki

Tahun : 2003