Jumat, Desember 14

Kaji Terap Titik Awal Kebangkitan Petani Dalam Mengembalikan Lumajang Daerah Potensial Penghasil Bawang Putih

Sekitar tahun 1990an, Indonesia mulai booming dengan bawang putih import yang penampilannya lebih menarik, yaitu lebih besar, kokoh dan kompak dalam satuan gugus umbinya. Termasuk harganya juga bersaing, menyebabkan produk lokal hampir tiga dasa warsa, lambat laun menyisih dengan sendirinya. Hal ini juga dibuktikan dengan data import bawang putih dari BPS RI tahun 1996, jumlah import 59.893 ton hingga tertinggi terjadi di tahun 2014 mencapai 494.631 ton. Artinya dalam kurun waktu hampir 20 tahun, terjadi peningkatan volume import sekitar 8,25 kali dari semula. Kondisi demikian bukan berarti Indonesia tidak memiliki lahan potensial untuk pengembangan komoditi tersebut. Melainkan karena ketidak berdayaan petani berkompetisi melawan kebijakan import di masa lalu, namun tidak demikian dengan kondisi sekarang. Sejak 2017, Pemerintah, melalui Kementerian Pertanian menargetkan tahun 2019, Indonesia harus berswasembada, mampu memenuhi seluruh kebutuhan bawang putih dengan varietas unggul nasional, tanpa harus import lagi.

Gagasan ini tidak berlebihan mengingat di Jawa Timur dahulu memiliki daerah potensi penghasil bawang putih sekitar 3.962 ha, terdapat di Malang (1.723 ha); Mojokerto (1.098 ha); Probolinggo (603 ha); Lumajang (297 ha); Batu (150 ha); dan Magetan (91 ha) (Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian, 2017). Selanjutnya, pemantauan luas tanam di tahun 2016, menurun menjadi 95 ha. Namun demikian upaya terus dilakukan BBSDLP untuk mengeksplorasi daerah potensial pengembangan di enam kabupaten tersebut. Alhasil diperoleh 1.965 ha diantaranya Mojokerto (700 ha); Magetan (500 ha); Malang (300 ha); Lumajang (200 ha) dan Probolinggo (15 ha).

Namun apalah artinya, hasil eksplorasi potensi lahan untuk pengembangan tanaman bawang putih tanpa diikuti dengan pengembangan potensi sumberdaya manusia pertanian itu sendiri, yakni petani dan petugasnya. Sepertinya sudah diattur dalam Permentan Nomor 19 tahun 2017, BPTP Jawa Timur sebagai UPT Balitbangtan Kementerian Pertanian yang berada di provinsi, mempunyai mandat dalam Penyelenggaraan Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Manusia Pertanian melalui berbagai kegiatan diseminasi dan penyuluhan. Salah satu diantaranya yaitu pada tahun 2018 menggelar Kaji Terap Pengembangan Bawang Putih Varietas Unggul Nasional Lumbu Hijau dan Lumbu Kuning. Kaji Terap merupakan salah satu bentuk metode pembelajaran penerapan inovasi baru bagi petani yang pendampingannya dimulai dari perencanaan, pengambilan keputusan, pelaksanaan sampai dengan panen bahkan pemasaran, didampingi secara intensif oleh petugas lapang dan desain inovasi serta metode pembelajaran berkolaborasi dengan peneliti/penyuluh BPTP Jatim.

Dalam penyelenggaraan Kegiatan Kaji Terap tersebut membidik dua misi sekaligus. Pertama, yaitu peneknanan pada penerapan inovasi agar diperoleh produk dengan kualitas dan kuantitas yang kompetitif dengan produk import; Kedua, adalah rekayasa sosial guna membangkitkan kembali semangat petani dengan terus memberikan motivasi agar petani mau bangkit kembali dengan penuh keyakinan bisa membangun kembali daerahnya yang dahulu pernah mencatat sejarah sebagai daerah penghasil bawang putih yang diperhitungan di Jawa Timur.

Oleh sebab itu, pemilihan lokasi, petani dan petugas dalam Kaji Terap perlu dilakukan dengan seksama. Artinya setiap aksi petani pelaksana dan petugas yang terdapat dalam satuan kinerja Kaji Terap tersebut harus mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat tani sekitarnya. Hasil identifikasi ditemukan bahwa Poktan Kayu Manis, desa Kandang Tepus yang diketuai oleh Anto Wijatmiko layak terpilih melaksanakan Kaji Terap bawang putih di Wilayah Kerja Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Senduro, Lumajang, yang dipimpin oleh Hendrik Pamuji, SP.

Pemilihan lokasi ini juga dianggap sudah tepat, karena diperkuat dengan pernyataan Kepala Desa Kandang Tepus, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, yakni bapak Kasiyan. Pernyataannya disampaikan di sela-sela acara Temu Lapang Petani pada Aplikasi ZPT di Lahan Kaji Terap Bawang Putih BPTP Jawa Timur. Dalam usianya yang mencapai 60 tahun, beliau memberikan kesaksiannya bahwa: “di tahun 1990-an desa Kandang Tepus, Senduro banyak petani menanam bawang putih selain untuk konsumsi juga benih”. Lebih dikatakan: “Utamanya daerah ini cocok bila digunakan sebagai daerah sentra pengembangan varietas unggul nasional Lumbu Kuning”.

Dari hasil pertemuan di lahan Kaji Terap Pengembangan Bawang Putih Varietas Nasional yang beranjak umur 67 hari tersebut, hasilnya cukup mengesankan petani yang hadir dan nampaknya mampu menarik minat petani dari kecamatan lain, yaitu bapak Paidi, ketua poktan Tani Makmur dusun Ngampo, Pasrujambe hendak berkunjung ke lahan Kaji Terap Poktan Kayu Manis. Poktan Tani Makmur dusun Ngampo tersebut, juga ikut mengembangkan bawang putih seluas 0,2 ha. Pada akhirnya, semoga melalui Kaji Terap Pengembangan Bawang Putih Varietas Nasional Lumbu Hijau dan Lumbu Kuning di Kandang Tepus, Senduro, mampu mengembalikan Lumajang sebagai daerah potensial penghasil bawang putih di Jawa Timur, guna menopang capaian Swasembada di tahun 2019.(TSK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *