Jumat, Desember 14

Kepala Badan Litbang Kementan RI Temui Bupati Gresik Bahas TTP Plus

Gresik – Setelah diresmikan oleh Menteri Pertanian, Amran Sulaiman beberapa saat yang lalu. Untuk memastikan Taman Teknologi Pertanian (TTP) Gresik bisa berjalan sesuai harapan, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Muhammad Syakir, M.S mendatangi Pemerintah Kabupaten Gresik.

Pejabat eselon I Kementerian Pertanian RI yang didampingi oleh Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, Dr. Ir. Chendy Tafa Kresnanto, MP dan Kepala Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Ir. Eliana Mansyah, MP diterima Bupati Gresik Dr. Sambari Halim Radianto di ruang rapat Kantor Bupati Gresik, Senin (10/9/2018).

Saat itu Bupati didampingi oleh Sekda Gresik, Djoko Sulistio Hadi, Kepala Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Siswadi Aprilianto, Kepala BKD Gresik, Nadhif dan PLT. Kepala Dinas Pertanian Agus Budiono. Terut mendampingi Pejabat Pemkab Gresik yaitu CEO PT Polowijo Gosari Gresik Achmad Djauhar Arifin.

Dalam keterangannya, Muhammad Syakir mengaku, dari banyaknya TTP yang ada di Indonesia hanya TTP plus yang sudah menjadi asset Pemkab Gresik ini yang pertama dikunjunginya.

“Menurut saya TTP Gresik ini adalah TTP plus yang punya karakteristik. Saya berharap TTP Gresik ini bisa menjadi percontohan seluruh TTP yang ada di Indonesia. TTP ini akan berhasil apabila ada dukungan dari Bupati atau pemerintah, dukungan swasta dan dukungan masyarakat. Bupati sebagai innovator adalah hal penting atas kemajuan TTP pada suatu daerah. Untuk TTP Gresik ini saya optimis” katanya.

Menurut Syakir, inovasi dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian mengalir saja, dan pihaknya siap mendampingi sebatas yang diperkenankan, agar TTP plus Gresik ini sukses.

Pada kesempatan itu, Bupati menyampaikan harapan agar keberadaan TTP Plus Gresik ini bisa mengangkat kesejahteraan petani Gresik.

“Sebelum program intiplasma yang akan dikembangkan kepada petani, saya berharap petani harus untung, yaitu untung dalam produksi dan untung dalam pengolahan. Untuk itu kepada pihak Balitbang pertanian agar semuanya dihitung dengan cermat. Jangan sampai program intiplasma yaitu penanaman mangga intercropping dengan tanaman lain ini petani dirugikan” tandasnya.

Sambari berharap agar ada kepastian pasar, yaitu tertampungnya semua hasil petani dengan kepastian harga yang baik.

“Satu lagi yang penting yaitu adanya biaya hidup petani sebelum petani tersebut menghasilkan. Karena saat awal menanam sampai lima tahun pertama, dipastikan petani belum mendapatkan hasil. Penghasilan hanya bisa didapatkan dari intercropping misalnya tanaman jagung, kedelai atau papaya. Tentu saja hasil tanaman intercroping ini dipastikan bisa menopang biaya hidup petani” tandasnya.

Sementara CEO PT Polowijo Gresik, Achmad Djauhar Arifin menyampaikan bahwa untuk langkah awal pengembangan mangga unggul, yaitu regenerasi pohon mangga milik petani dengan bibit mangga yang unggul. (shol)

Sumber: https://panjinasional.net/2018/09/11/16305

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *