Rabu, Agustus 22

Melalui Kaji Terap, Petani Kaki Gunung Semeru Kembali Tanam Bawang Putih

Luasan tanam bawang putih mengalami penurunan tajam semenjak tarif impor bawang putih diturunkan menjadi 5% di tahun 1996. Harga bawang putih impor menjadi lebih murah dibandingkan lokal, sehingga gairah petani untuk menanam bawang putih semakin menurun. Ketergantungan konsu-men di Indonesia terhadap bawang putih impor sangat tinggi, yaitu sekitar 95%, kebanyakan berasal dari China. Bahkan sekitar tahun 2010, bawang putih import yang yang disukai konsumen karena berumbi besar itu mencapai harga Rp. 2.500,- per kilogram, yang lokal dengan umbi kecil di harga sekitar Rp. 17.500,-

Sudah menjadi komitment pemerintah untuk berswasem-bada pangan, termasuk bawang putih telah dilakukan melalui berbagai cara.  Diantaranya di tahun 2017, diawali dengan pengembangan sentra bawang putih, perbenihan dan pengaturan import dengan cara importir wajib menanam.  Di Jawa Timur, daerah sentra bawang putih terdapat di daerah ketinggian kabupaten Malang, Mojokerto, Probolinggo, Lumajang, Magetan dan Kota Batu.  “Lumajang, dahulu pernah berjaya dengan bawang putih”.  “Ketidakmampuan petani bersaing harga dengan bawang putih import menyebabkan petani berangsur beralih ke komoditi sayuran lain seperti: kentang, wortel, daun prei, seledri”, kata Anto Sujatmiko, ketua poktan Kayu Manis di desa Kandang Tepus, kecamatan Senduro, kabupaten Lumajang.

Adanya wacana negeri ini ingin meraih swasembada dengan mengembalikan kejayaan bawang putih unggul nasional, ternyata dapat memicu, menumbuhkan semangat baru bagi petani yang ada di kaki gunung Semeru.  Banyak petani yang ingin mengadu keberuntungan pada bawang putih.  Oleh karena usaha bawang putih termasuk hal baru bagi petani, maka perlu arahan, bimbingan dan pendampingan inovasi dari peneliti dan penyuluh yang berkompeten.  Untuk pendampingan inovasi tersebut terdapat pada kegiatan Kaji Terap BPTP_Balitbangtan Jawa Timur.  Kaji Terap merupakan metode diseminasi penerapan inovasi langsung di lapangan, bagi petani dan petugas untuk  mendapatkan arahan dan bimbingan teknis, serta mengkaji kelayakan inovasi anjuran pengembangan bawang putih.

Oleh karena gelora semangat petani, maka di kabupaten Lumajang terdapat dua unit  Kaji Terap, yaitu Selain di Kandang Tepus, kecamatan Senduro pada ketinggian 1.013 m dpl., seluas 0,1 ha;  juga yang satu unit lagi ada di poktan Tani Makmur, desa Pasrujambe, kecamatan Pasrujambe seluas 0,2 ha pada ketinggian 913 m dpl.  Waktu tanam dimulai akhir Juni s/d awal Juli 2018 tutup tanam.  Besar harapan, melalui dua unit Kaji Terap tersebut, dapat memberikan contoh atau display inovasi nyata di lapang yang dapat digunakan sebagai panutan petani yang lain dalam mengembalikan masa kejayaannya (Tin’S.Jul’18).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *