Kamis, Oktober 18

Optimisme Mengelola Lahan Kering Ditengah Kelesuan Produksi Kedelai

Kedelai merupakan tanaman yang banyak diusahakan di lahan sawah dan sebagian yang berkembang di lahan kering. Kelesuan produksi kedelai tidak terlepas dari persaingan secara kompetitif dengan jagung karena dapat berproduksi di lahan yang sama dan tanaman jagung mempunyai nilai pendapatan lebih baik dibanding kedelai. Kunci utama dalam menggairahkan minat tanam kedelai adalah harga jual yang lebih baik.

Meskipun harga acuan berdasarkan Permendag Noor 27/M-DAG/PER/5/2017 tentang penetapan harga acuan pembelian di petani untuk kedelai Rp. 8.500/kg, namun harga jual kedelai di lapang sekitar Rp.6.000 s/d Rp.7.000/kg, salah satunya dipengaruhi oleh mutu yang kurang baik, ukuran biji beragam dan tercampur varietas lain, disamping produktivitas kedelai di lahan kering sangat rendah berkisar 1-1,5 t/ha. Petani memperoleh benih kedelai melalui Jabalsim (Jaringan benih antar lapang dan musim) dan sebagian beli di pasar atau hasil panen sebelumnya dengan mutu asalan.

Masalah penyediaan benih yang baik dari varietas unggul baru disertai teknik budidaya kedelai yang baik sangat mempengaruhi produksi dan mutu biji lebih seragam sehingga harga jual menjadi lebih baik. Untuk menjawab masalah tersebut telah dilakukan penelitian penanaman kedelai di lahan kering Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo dan Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep pada musim kemarau (MK 1) 2018. Kedelai yang digunakan varietas Dering 1 yang ditanam secara monokultur maupun tumpangsari dengan jagung varietas HJ 21. Awalnya petani sangat pesimis karena di wilayahnya belum pernah menanam kedelai. Sebelum tanam, benih kedelai di rendam larutan Agrisoy (produk Balitkabi) untuk inokulasi rhizobium pada lahan yang belum pernah tanam kedelai atau kacang-kacangan lainnya. Namun melihat keragaan pertumbuhan kedelai yang baik membangkitkan optimisme petani untuk mencobanya.

Hasil kedelai monokultur di Situbondo dan Sumenep masing-masing 2,17 t/ha biji ose dan 2,50 t/ha biji ose, sedangkan bila ditumpangsarikan dengan jagung diperoleh hasil kedelai yaitu 1,96 t/ha biji ose (Kab. Situbondo) dan 2,38 biji ose (Kab. Sumenep) dengan hasil jagung 2,17 t/ha pipilan kering dan 2,77 t/ha pipilan kering. Bila hasil tumpangsari kedelai dan jagung disetarakan dengan hasil kedelai diperoleh sebesar 3,23 t/ha biji ose (Situbondo) dan 4,00 t/ha biji ose (Sumenep) atau terdapat kenaikan 0,73 t/ha biji ose dan 1,5 t/ha biji ose dibanding monokultur kedelai.

Penulis: Zainal Arifin (Peneliti Budidaya Tanaman di BPTP Jawa Timur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *