Rabu, Agustus 22

Pemuda Tani Antusias Sambut Pembaharuan Inovasi Pengembangan Bawang Merah Dari Biji Botani

SITUBONDO-Desa Wonorejo, kecamatan Sumber Rejo, merupakan wilayah paling ujung timur kabupaten Situbondo dan hanya dengan jarak 500 meter lagi sudah memasuki wilayah kabupaten Banyuwangi.  Disinilah Balai Teknologi Pengkajian Pertanian (BPTP) Balitbangtan Jawa Timur melakukan penderasan dan hilirisasi inovasi melalui Kaji Terap.  Sasarannya adalah petugas dan petani, karena dalam wadah tersebut petugas berasama-sama petani mengkaji inovasi, yang layak dan menguntungkan, bisa dilanjut untuk diterapkan dan dikembangkan dalam skala yang lebih luas.

Di wilayah tersebut sebagai daerah potensi pengembangan bawang merah untuk kabuopaten Situbondo, selain kecamatan Mangaran dan Panji.  Masalah utam yang dikeluhkan petani adalah biaya produksi tertinggi di pengadaan bibit umbi bawang merah mencapai 40 % dari total biaya produksi.  Selain itu juga harga bibit umbi cukup tinggi.  Kehadiran BPTP Balitbangtan Jatim di Situbondo, yang juga merupakan arahan dari Kepala Balai, Dr. Ir. Chendy Tafakresnanto, MP, agar melakukan perubahan dan pembaharuan inovasi budidya pengembangan bawang merah.  Kini tidak lagi budidaya menggunakan bibit umbi, melainkan dengan menggunakan bibit asal biji botani atau True of Seed Shalot (TSS).

Pada 10 Juli 2018, kegiatan lapang Kaji Terap diawali dengan Sosialisasi dan Demo Cara Menyemai Benih Bawang Merah Dari Biji Botani (TSS).  Nara sumber utama adalah peneliti senior juga manta Kepala BPTP Jatim 2013-2016, Dr. Ir. Tri Sudaryono, MS, beliau juga pemulia di bidang hortikultura.  Pada paparan materi beliau, bahwa penerapan inovasi TSS akan menekan biaya produksi benih hingga 50-60 %.  Namun perlu diingat bahwa penekanan biaya benih tersebut, petani harus mengeluarkan biaya produksi untuk pengadaan persemaian.  Taruhlah 30 % untuk biaya persemaian, masih ada keuntungan 20-30 %.  Dengan dasar perhitungan per hektar: kebutuhan bibit umbi 1.000 kg di harga Rp. 30.000,- hingga Rp.35.000,-.  Biji botani TSS di harga Rp.2.000.000,- – Rp 2.500.000,- kebutuhan per hektar 5 hinga 6 kg.

40 orang peserta yang terlibat hadir pada pertemuan tersebut, cukup antusias terlibat dalam diskusi pada kegiatan sosialisasi dan demo cara menyemaikan biji botani TSS.  Unsur Peserta yang hadir dalam membawa pembaharuan inovasi adalah selain Dr. Tri Sudaryono MS., didampingi oleh Ir. Tini S. Koesno sebagai Penyuluh dan Penjab. Kaji Terap; dan Ir. Kasmiyati, MP., Ketua Kelji Sosek.  Dari unsur pengambil kebijakan dari Dinas Pertanian Pangan dan Hortikultura Situbondo, yang motori oleh Ir. Sugeng Iriyanto, MMA., Kabid. Hortikultura berserta beberapa orang seksi.  Penting lagi adalah hadirnya 20 orang petani penerap inovasi yang 80 % Pemuda Tani tergabung dalam poktan Rukun Tani yang diketuai oleh Adi Santoso.  Acara ini juga dihadiri oleh petani ex. Magang Jepang, yang namanya juga sama dengan ketua poktan, yaitu Adi serius menyimak dan membahasnya.  Sekitar 85 % peserta antusias menerima pembaharuan inovasi bawang merah TSS.  Indikatornya adalah jumlah penanya ada lima orang dengan jumlah pertanyaan sekitar 9 point dari aspek ekonomi, teknis dan manajemen pengelolaan di seputaran penyediaan benih hingga persemaian.

Keberhasilan pembaharuan inovasi di suatu wilayah juga sangat ditentukan oleh petugas garda terdepan.  Mereka itu diantaranya: Yulianto, Koordinator BPP Sumber Rejo; Widiatmoko, Penyuluh Pendamping Wilbi Wonorejo;  serta Abdi Kuspriyantono, Sadin Arifanto Radeseana Setyabudi, Pamuji Hariyono, Tezar, Wijimu, Hardiono, dan Dandewi Harisandi sebagai petugas BPP yang diperbantukan ikut bertanggung jawab terhadap keberhasilan Kaji Terap tersebut….. (Tini’S)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *