Kamis, Oktober 18

Rekayasa Tanam Jagung Dalam Peningkatan Produktivitas Lahan Kering

Lahan kering yang dibatasi oleh ketersediaan air dibutuhkan pengelolaan tanaman dalam satu kesatuan pola tanam berdasarkan peluang curah hujan yang ada. Upaya meningkatkan produktivitas lahan kering dan intensitas pertanaman jagung, telah dilakukan penelitian rekayasa tanam jagung di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo dan Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep. Jagung varietas HJ 21 yang ditanam dengan jarakĀ tanam 75 cm x 20 cm diperoleh hasil 5,0-6,7 t/ha, sedangkan rekayasa jarak tanam menjadi double row 100 cm x 50 cm x 20 cm dengan populasi sama diperoleh hasil 5,5-7,5 t/ha atau terdapat kenaikan 0,5-0,8 t/ha pipilan kering. Selain hasil meningkat, jagung jarak tanam double row membutuhkan biaya pengelolaan dan benih jagung yang sama dengan jagung jarak tanam biasa sehingga keuntungan usahatani meningkat, disamping pemeliharaan tanaman lebih mudah dilakukan karena terdapat ruang lebih lebar. Pada saat tanaman jagung menjelang panen (15 hari sebelum panen), batang diatas tongkol dan daun dibawah tongkol dipangkas untuk mempercepat pengeringan tongkol di lapang. Hasil pangkasan (biomas) jagung bisa mencapai 7-8 t/ha biomas segar yang dapat diberikan sebagai pakan ternak sapi potensial. Setelah pemangkasan daun, dapat segera tanam sisip (Relay planting) jagung atau kedelai secara tugal karena kelengasan tanah masih cukup tinggi sehingga sangat baik untuk pertumbuhan awal jagung atau kedelai. Dengan tanam sisip jagung/kedelai yang lebih awal tanam 15 hari, maka waktu panen menjadi lebih cepat sehingga resiko kekurangan air saat pengisian tongkol dapat dihindari pada saat musim kemarau yang defisit air.

Penulis : Zainal Arifin (Peneliti Budidaya Tanaman di BPTP Jawa Timur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *