Rabu, Oktober 16

Validasi Luas Baku Sawah Secara Spasial Berbasis Android

Gresik, 20/08/2019. Data luas baku sawah  merupakan salah satu parameter penting dalam penentuan target produksi dan arah kebijakan pemerintah terkait kemandirian pangan wilayah. Berdasarkan data Kementerian ATR/BPN  tahun 2018 luas baku  sawah Jawa Timur mengalami kenaikan sebesar 205.049 ha dibandingkan dengan data BPS tahun 2017. Di Kabupaten Gresik luas baku sawah versi ATR tahun 2018 lebih tinggi 8.583 ha.

Data luas baku sawah menjadi sangat penting sebagai pijakan dalam perencanaan pertanian di daerah. Lahan sawah yang ada apabila dilengkapi dengan pola tanam dan produktivitas dapat sebagai dasar dalam pengajuan RDKK, peningkatan produksi, penyusunan rekomendasi spesifik lokasi, dan laporan LTT.

Sampai saat ini Balitbangtan BPTP Jatim sudah melakukan validasi lahan baku sawah secara spasial di 9 Kabupaten di Jawa  Timur. Giliran kali ini di Kabupaten Gresik. Metode Validasi Luas Baku Lahan Sawah Secara Spasial Berbasis Android dengan melakukan Bimtek kepada seluruh PPL, POPT, dan Mantri tani. Kegiatan ini juga sebagai salah satu upaya mendukung program peningkatan produksi Pajale melalui peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas. Bimtek dilakukan 2 tahap, tahap pertama dilaksanakan TOT bagi perwakilan petugas dari masing-masing UPT dan BPP, selanjutnya dilakukan pelatihan lanjutan kepada seluruh PPL, POPT, dan Mantri tani di Kab. Gresik dengan peserta sebanyak 110 orang.

Pelatihan kepada petugas pertanian dilakukan bertempat di masing-masing UPT. Dalam kegiatan validasi ini peserta dibekali dengan peta lapang  dan aplikasi android “Observasi” yang akan dipakai oleh petugas untuk melakukan validasi lahan sawah serta mendata pola tanam, produktivitas dan teknologi eksisting yang diterapkan oleh petani.

Peserta antusias mengikuti pelatihan ini, karena mereka berharap melalui kegiatan ini akan diperoleh output berupa luas data baku sawah yang valid dan rekomendasi teknologi spesifik lokasi. Bagi PPL, data luas baku sawah yang valid sangat dibutuhkan untuk menyusun RDKK pupuk bersubsidi. Senada dengan hal tersebut, Kepala BPTP Jatim, Dr.  Chendy Tafakresnanto menyampaikan bahwa data baku sawah yang valid dan data sumberdaya lahan sangat dibutuhkan untuk menunjang precision farming dan analisis kebijakan. Disamping itu, Ka. BPTP Jatim menegaskan bahwa setiap kabupaten harus mempunyai Pangkalan Data Pertanian sebagai sumber data yang akurat.

Salah satu pemateri dari BPTP Jatim,  Dr.  Atekan menyampaikan bahwa dalam melakukan validasi dan pendataan Sumberdaya Lahan,  diharapkan petugas bisa benar-benar memberikan informasi yang valid terkait kondisi eksisting di lapangan, apabila ada yang meragukan,  lakukan cek lapangan dengan lebih teliti menggunakan peta dan aplikasi yang ada. Input data yang tidak valid akan berdampak pada output yang tidak valid juga. Pihak Diperta Kab.  Gresik juga berharap agar  data yang sudah dikerjakan oleh petugas terkait divalidasi lagi oleh tim khusus agar output yang dihasilkan baik dan bisa dijadikan salah satu acuan dalam kebijakan pemerintah daerah terutama terkait pangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *