KARANGKITRI JAWA TIMURAN : Budidaya Bawang Putih
Jumat, Mei 20

KARANGKITRI JAWA TIMURAN : Budidaya Bawang Putih

Malang, 21 April 2021 – Minggu ini, Karangkitri Jawa Timuran membahas seputar budidaya bawang putih bersama dengan Kepala BPTP Balitbangtan Jawa Timur, Dr. Ir. Catur Hermanto, M.P. serta Ir. Baswarsiati, MS selaku Peneliti di BPTP Balitbangtan Jawa Timur.

Seperti yang kita ketahui, masyarakat Indonesia tidak bisa terlepas dari kebutuhan bawang putih. Saat ini kebutuhan konsumsi bawang putih di tingkat nasional adalah 500.000 Ton/Tahun dan Jawa Timur 42.000 Ton/Tahun atau hampir 8% dari kebutuhan konsumsi bawang putih di tingkat nasional. Menilik ke belakang, sektor bawang putih di Indonesia pernah mengalami swasembada pada tahun 1994-1995. Pada saat swasembada kebutuhan per kapita bawang putih adalah 0,5 Kg/Orang/Tahun, namun di masa sekarang kebutuhan per kapita naik menjadi 1,72 Kg/Orang/Tahun. Hal ini tidak terlepas dari adanya import bawang putih, padahal bawang putih lokal sendiri memiliki kelebihan terutama pada rasa dan aroma yang lebih menyengat dibandingkan dengan bawang putih import. Hal ini disebabkan oleh tingginya kandungan Alisin yang merupakan senyawa organosulfur dengan aroma menyengat serta baik untuk tubuh.

Selanjutnya disampaikan beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam budidaya bawang putih.  Bawang putih menghendaki adanya lahan yang gembur dan remah untuk pertumbuhan umbi, terpapar suhu yang cenderung rendah, serta ketinggian tempat yang sesuai. Secara umum bawang putih dapat tumbuh maksimal di dataran tinggi, namun BPTP Jawa Timur sudah mencoba menurunkan ketinggian sampai dengan 500 mdpl. Varietas yang di uji coba adalah Lumbu Hijau Lumbu Kuning, serta varietas lokal asal Kecamatan Poncokusumo yang disebut Bawang Kayu/ Bawang Kusuma yang saat ini sudah dalam proses pendaftaran dan akan segera di lepas. Bawang Kusuma ini memiliki keunggulan antara lain umur yang lebih pendek yaitu sekitar 90 Hari dan lebih tahan terhadap OPT. Selain itu BPTP Jawa Timur juga melakukan pemotongan masa dormansi bawang putih, yang semula 4 bulan menjadi 2,5 bulan saja. Caranya adalah bawang putih di anginkan selama 1,5 bulan , kemudian dimasukkan kedalam cold storage di suhu 5°C selama 2 minggu. Selanjutnya bawang putih di angin-anginkan kembali selama 2 minggu.

Dalam kegiatan budidaya bawang putih juga perlu memperhatikan pengolahan lahan. Bila pH tanah dibawah 5,5 maka dperlukan penambahan kapur pertanian hingga pH tanah menyentung angka 6. Selain itu bawang putih membutuhkan pupuk organik yang tinggi yaitu 20-30 Ton/Ha serta SP-36 350 Kg/Ha yang diaplikasikan sebagai pupuk dasar. Pada saat proses pertumbuhan, usahakan kebutuhan air dan sinar matahari tercukupi agar bawang putih dapat tumbuh secara maksimal. Antisipasi fusarium dapat dilakukan dengan cara merendam benih bawang putih trichodherma cair dengan takaran 10 CC untuk setiap 1 Liter air. Selain itu diperlukan ketelatenan dalam penanganan gulma. Akan lebih baik menggunakan jerami sebagai mulsa dikarenakan memiliki kemampuan menjaga suhu dingin di tanah. Pemupukan lanjutan dilakukan setiap 15 haridengan komposisi pupuk ZA 275 Kg/Ha serta KCl 50 Kg/Ha sampai dengan umur 60 HST. Pada masa pasca panen apabila dilakukan tunda jual atau untuk kebutuhan benih maupun konsumsi, maka diperlukan sigiran atau para-para untuk mengeringkan bawang putih sehingga dapat disimpan dalam gudang dalam waktu yang relatif lama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *