Rabu, Desember 1

MIXCROPPING BATU IJO DILERENG PERBUKITAN PENDAMPINGAN YANG TIDAK MENGENAL BATAS DAN WAKTU UNTUK MENGEMBANGKAN BAWANG MERAH VARIETAS BATU IJO

Varietas Batu Ijo sudah berkembang dan terus diharapkan bisa memberikan harapan yang lebih baik bagi petani di Kabupaten Malang khususnya di Kecamatan Ngantang. Kecamatan Ngantang berada pada ketinggian 600-1.100 m dpl, kemiringan lahan antara 15% – 55%.
Di tengah-tengahnya terdapat Bendungan Selorejo. Wilayah kecamatan terletak antara 7°48’15” LU – 7°57’25” LS dan antara 112°16’30” BT – 112°26’30” BT, dengan batas wilayah sebagai berikut sebelah utara dalah Kecamatan Kasembon dan Kabupaten Mojokerto, sebelah timur berbatasan dengan wilayah Kecamatan Pujon, sebelah Selatan bersebelahan dengan wilayah Kecamatan Blitar serta di sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Kabupaten Blitar dan Kecamatan Kasembon.
Bawang merah Batu Ijo sangat disukai oleh petani karena selain ukuran umbinya yang besar juga mempunyai kemampuan toleran terhadap penyakit Fusarium dan Hama Spodoptera Sp. Tinggi tanaman mencapai 60 cm dengan jumlah daun per tanaman 45-50 helai, jumlah anakan 2-8 umbi per rumpun, dan bobot per umbi 15-25 gram, diameter umbi 3,5-5 cm dan hasil per hektar bisa mencapai 18,5 ton per hektar.
Batu Ijo mempunyai daya adaptasi yang tinggi, bisa ditanam pada lahan dengan ketinggian mulai 50 m dpl hingga ketinggian 1.100 m dpl. Budidaya Batu Ijo di dataran rendah biasanya umur panennya lebih pendek yaitu sekitar 55 hari setelah tanam sedangkan di dataran tinggi umur panen bawang merah Batu Ijo lebih panjang yaitu sekitar 65 hari.
Bawang merah yang telah dipanen segera di angkut ke pengeringan yaitu ke SIGIRAN dengan cara digantungkan satu persatu sesuai dengan ikatannya. Satu ikatan bawang merah biasanya mempunyai bobot 2-3 kg bobot basah. Pengeringan pada SIGIRAn memerlukan waktu 10 hingga 12 hari tergantung cuaca dan intensitas sinar matahari. Pada musim kemarau pengeringan lebih cepat daripada pengeringan pada musim penghujan. Akan tetapi dengan sistem SIGIRAN ini, setelah bawang merah kehujanan akan dengan cepat mengering karena air bisa tuntas menetes kebawah, air pada umbi terhempas angin, dan bawang merah akan terkena panas yang lebih baik karena ikatan umbi disusun secara vertikal dalam sampiran.
Berdasarkan data statistik BPS Kabupaten Malang dalam angka 2019 Kecamatan Ngantang tercatat sebagai penghasil bawang merah yang paling tinggi yaitu sebesar 126.591 ton dengan luas tanam mencapai 4.752 hektar. Kawasan lahan bawang merah dalam setahun terdapat di 3 agroekologi yaitu lahan sawah, lahan tegal, dan Lahan Masyarakat Desa Hutan (LMDH).
Dalam setahun, panen bawang merah bisa dilakukan sampai 4 (empat) kali yang dilakukan di lahan tegalan, lahan sawah, dan di lahan Perhutani melalui pengelolaan hutan dengan lembaga LMDH. Tanam yang pertama dilakukan pada saat penghujan atau TRACAPAN dengan musim tanam antara Nopember sampai Desember dan panen pada Januari; MARENGAN dengan musim tanam Pebruari sampai Maret dan Panen pada bulan Mei; SAYURAN dengan musim tanam Juni sampai Juli dan panen pada Agustus; dan APITAN dengan musim tanam September sampai Oktober dan panen pada Nopember yang dilakukan tepat sebelum tanam padi di lahan sawah.
Pada lahan tegal, bawang merah batu ijo bisa ditanam menggunakan mulsa plastik sehingga warna umbinya merah lebih cerah tetapi kelemahannya, budidaya tanaman tidak bisa dengan system mixcropping atau tanam aneka sayur dalam lahan yang sama. Oleh karena itu petani lebih menilih budidaya bawang merah tanpa mulsa plastik sehingga dalam satu hamparan bisa ditanami juga sawi, jahe, tomat, cabai kecil, dan jahe.
Pada saat panen kita akan menjumpai aneka sayur atau tanaman biofarmaka lainnya yang ditanam dalam satu bedengan bekas tanaman bawang merah. Oleh karena itu hati-hati dalam melangkah karena ada banyak benih tanaman yang sudah ditanam oleh petani pada lahan tersebut.
Selesai panen bawang merah, tanaman dalam mixcropping lainnya akan tumbuh dengan baik dan meningkatkan efesiensi penggunaan lahan serta memutus siklus perkembangan hama dan penyakit tanaman. Lahan tegal ini akan ditanami kembali bawang merah pada saat TRACAPAN atau musim hujan. Sistem mixcropping ini juga mengurangi resiko kerugian akibat gagal panen pada salah satu atau beberapa komoditas yang ternyata gagal dipanen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *