Rabu, Desember 1

Produk Eucalyptus, Hasil Karya Balitbangtan Kementan yang Membanggakan

Di tengah pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, seluruh komponen profesional terus berikhtiar mencari penangkal atau obat bagi virus ini untuk kemaslahatan bersama. Untuk itu, segala upaya terkait penemuan baik pada tingkat pendahuluan atau in vitro hingga pada tingkat in vivo dalam uji klinis, tentunya patut diapresiasi oleh seluruh lapisan masyarakat.

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah berhasil mengembangkan produk inovasi yang berbasis tanaman Eucalyptus. Sejauh ini, hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan kandungan senyawa aktif 1,8-cineole (eucalyptol) yang dimiliki oleh tanaman eucalyptus sebagai yang paling efektif.

Adapun produk yang sudah memiliki hak paten ini telah melalui uji molecular docking dan uji in vitro di laboratorium Biosafety Level 3 (BSL 3) milik Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet). BB Litvet adalah unit kerja di bawah Balitbangtan dengan tugas pokok melaksanakan penelitian di bidang veteriner.

BB Litvet juga ditetapkan sebagai laboratorium rujukan penyakit hewan termasuk penyakit zoonosis (rabies, antraks, brucella) dan penyakit eksotik (ebola, nipah, hendra), yang telah terakreditasi sebagai laboratorium mumpuni dalam melaksanakan berbagai penelitian penyakit dimaksud. Laboratorium BSL3 moduler juga didesain khusus untuk penelitian penyakit Avian Influenza (AI), pengamatan virus AI yang bersirkulasi di Indonesia dan efikasi vaksin.

“Produk ini adalah ekstrak dengan metode desilasi untuk dapat membunuh virus influenza dan corona di laboratorium. Ternyata berdasarkan screening, eucalyptus ini memiliki kemampuan membunuh virus influenza bahkan Corona,” ujar Kepala BB Litvet, NLP Indi Dharmayanti. Namun untuk sampai pada produk berupa obat atau antivirus, tentunya perlu proses riset dan penelitian yang panjang hingga tahapan uji klinis. Sehingga beliau menekankan bahwa produk eucalyptus bukanlah obat. Untuk itu, penelitian terkait tanaman obat ini akan berlanjut hingga pada tahapan uji klinis.

Menindaklanjuti hal tersebut, maka upaya riset yang lebih detail terkait eucalyptus ini diperkuat dengan telah ditandatangani MoU dan Nota Kesepakatan antara Balitbangtan Kementan dengan Universitas Hasanudin Makassar, Universitas Indonesia, dan yang baru dilaksanakan adalah kerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

 

Produk eucalyptus ini akan dipasarkan melalui pihak ketiga, dalam hal ini perusahaan yang bergerak di bidang minyak berbahan dasar tanaman eucalyptus. Adapun kalung eucalyptus merupakan pengembangan dari beberapa produk yang diluncurkan sebelumnya seperti inhaler, roll on, balsem, dan diffuser minyak aroma terapi.

“Klaim kita kepada BPOM adalah jamu untuk melegakan saluran pernapasan, mengurangi sesak namun memiliki inovasi teknologi melalui pembuktian secara in vitro dapat membunuh Corona model dan influenza, sehingga cenderung dapat memproteksi diri dengan mengurangi paparan terhadap virus tersebut,” ujarnya.

Oleh karena itu, protokol utama yaitu menggunakan masker, tetap menjaga jarak, meningkatkan imunitas tubuh dengan olahraga dan makanan bergizi, serta pikiran yang positif diharapkan dapat terhindar dari Covid-19. Semoga produk eucalyptus ini dapat bermanfaat bagi seluruh masyarakat sebagai bagian dari kontribusi Balitbangtan Kementan bagi negeri Indonesia tercinta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *